Qaryah Thayyibah; Sekolah Kebebasan di Tengah Belenggu Pendidikan Indonesia

Oleh Andini Nova

Ada pemandangan yang tidak biasa jika berkunjung ke rumah Ahmad Bahruddin, warga Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. Rumah Bahruddin ramai dipenuhi oleh para remaja yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang bermain komputer, ada yang berdiskusi, ada pula yang membaca buku. Ya, pertengahan Juli 2003, Bahruddin memang memutuskan untuk mendirikan sebuah sekolah alternatif yaitu SMP Terbuka Qaryah Thayyibah dengan menggunakan dua ruangan di rumahnya. Tidak heran jika rumahnya selalu ramai tiap hari. Ide mendirikan sekolah alternative ini muncul ketika pada pertengahan tahun 2003, anak pertamanya, Hilmy, akan masuk SMP. Bahruddin terusik dengan anak-anak petani di desanya yang tidak mampu membayar uang sumbangan masuk SMP negeri yang saat itu mencapai Rp750.000, uang sekolah rata-rata Rp 35.000 per-bulan, uang seragam dan uang buku yang jumlahnya mencapai ratusan ribu rupiah, belum lagi ditambah biaya transport naik angkutan desa sebesar Rp1000 sekali jalan. “Saya mungkin mampu, tetapi bagaimana dengan orang-orang lain di desa saya?” tuturnya.

Bagi masyarakat Desa Kalibening yang mayoritas berprofesi sebagai petani, pendidikan bukanlah hal yang utama, sehingga tidak ada alasan mendesak untuk mengenyam pendidikan, apalagi jika harus membayar biaya yang mahal. Hati Bahruddin pun tergerak untuk peduli akan nasib teman-teman Hilmy tersebut. Rasa kepeduliannya itu ia wujudkan dengan menggagas ide pendirian sekolah alternatif yang berkualitas tapi dengan biaya yang murah.

Langkah pertama yang diambil Bahruddin yaitu mengumpulkan tetangganya dan mengadakan diskusi dengan mereka terkait dengan idenya itu. Dalam diskusi itu dibahas beberapa hal mengenai keluhan warga setempat mengenai pendidikan di Indonesia saat ini yang tidak juga berkualitas namun biayanya mahal. Setelah membahas berbagai keluhan itu, Bahruddin pun menceritakan idenya untuk mendirikan sebuah sekolah alternatif tingkat menengah pertama sebagai solusi untuk mengatasi keluhan-keluhan itu. Pada awalnya, dari tiga puluh peserta diskusi saat itu, hanya dua belas orang yang menerima idenya. Alasan yang dikemukakan oleh delapan belas warga yang menolak adalah karena takut coba-coba.

Menghadapi respon seperti itu, Bahruddin tidak gentar, ia bersama dua belas warga yang pro terhadap idenya, tetap maju dan akhirnya SMP Alternatif Qaryah Thayyibah ini pun berdiri dan mulai beroperasi dengan murid awal berjumlah 24 orang. Siswa sekolah ini tidak dipatok harus belajar sesuai kurikulum seperti sekolah formal. Sekolah ini memang masih menggunakan kurikulum nasional sebagai acuan, namun hal ini dilakukan agar lulusan SMP Qaryah Thayyibah tetap mendapat ijazah resmi dan pengakuan dari pemerintah serta masyarakat umum. Cara pembelajaran yang bebas dan tidak terikat oleh jadwal memang menjadi ciri dari sekolah ini. Siswa sedang ingin belajar apa, saat itulah ia mencari sendiri materi pelajaran yang ingin diketahuinya. Ia pun bisa mencari partner dan membentuk suatu kelompok kecil untuk berdiskusi tentang suatu hal. Tempat belajar pun tidak memandang lokasi, bisa dimana saja sesuai dengan keinginan peserta didik, ada yang belajar ruang kelas, di halaman, atau di kebun. Dari sini, siswa sudah dirintis untuk memilih sendiri apa yang menjadi minat mereka dan menentukan cara belajar sendiri yang dirasa cocok dengan mereka sehingga menjadi lebih fokus untuk menekuninya.

Menurut sekolah ini, belajar maksimal adalah yang didasari dengan keinginan dan kebutuhan siswa. Pandangan itulah yang mendasari pilar orientasi pendidikan independen dalam mengembangkan minat dan bakat para peserta didik. Kebebasan dan kemandirian dalam proses pembelajaran di sekolah ini tetap terkontrol dengan adanya beberapa guru pendamping sebagai teman diskusi, fasilitator dan juga motivator. Suasana kaku dan tegang yang biasanya terjadi di sekolah formal, tidak akan ditemukan pada sekolah ini karena hubungan antara siswa dan guru sangat akrab seperti halnya teman. Keakraban inilah yang membuat para siswa menjadi lebih enjoy dalam belajar.

Untuk menunjang proses belajar, fasilitas komputer yang dilengkapi dengan jaringan internet pun disediakan. Komputer-komputer itu dibeli dengan uang hasil sumbangan para warga. Untuk fasilitas internet, sekolah ini tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun karena Bahruddin dan para pendiri lainnya yang merupakan anggota Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah, bekerja sama dengan Roy Budhianto Handoko, direktur perusahaan internet di Salatiga, Indo.net yang memberi fasilitas internet 24 jam per-hari. Dengan adanya fasilitas komputer, internet, dan wi fi ini, para siswa diharapkan menjadi peserta didik yang melek teknologi, dan hal itu memang terjadi.

Jangan bicara soal produktivitas di sini. Para siswa yang umurnya masih belasan, sudah bisa membuat film sendiri. Setiap akhir pekan di akhir bulan, ada pemutaran film ini untuk ditonton ramai-ramai. Kalau film saja dengan mudahnya diproduksi, apalagi cuma sekadar buku. Di sini, karya-karya siswa sudah dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit progresif dari Jogjakarta, LKiS. Alhasil, meskipun masih berstatus pelajar, para siswa di sekolah ini sudah bisa mendapat penghasilan sendiri dari karya-karya yang mereka ciptakan.

Sekolah yang pada awalnya hanya mempunyai 24 siswa ini, sekarang telah mempunya 150 siswa yang tidak hanya berasal dari Salatiga, tapi juga dari daerah lain seperti Jogjakarta, Solo, Malang, bahkan Jakarta. Pendek kata, sekolah ini benar-benar menjadi alternatif bagi pendidikan yang sekarang ini terasa sangat membelenggu, tidak membebaskan. Belajar sesungguhnya bukan pada ujian, tapi kehidupan. Tetap menjaga nilai kearifan lokal tapi berwawasan global dengan pengetahuan yang benar adalah pendidikan yang sesungguhnya, dan Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah berhasil melakukan hal itu.

1 thought on “Qaryah Thayyibah; Sekolah Kebebasan di Tengah Belenggu Pendidikan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *