SEMINAR MENTAL HEALTH AWARENESS PERSEMBAHAN UPT LBK : Darurat Kesehatan Mental Mahasiswa Butuh Arahan

Rabu (27/03/19) Unit Pelayanan Terpadu (UPT), Layanan Bimbingan dan Konseling (LBK), Universitas Negeri Jakarta, menyelenggarakan sebuah seminar edukatif berjudul “Mental Health Awareness“.  Seminar yang dilaksanakan di Gedung R.A. Kartini, Universitas Negeri Jakarta ini ditujukan kepada perwakilan dari delapan Fakultas, Opmawa, dan Ormawa UNJ.

Seminar ini dilaksanakan bergantian tiap fakultas pada waktu yang telah ditentukan, tetapi tetap dengan materi pembahasan yang sama. Seminar ini juga dihadiri oleh Widoyo, S.Pd selaku Kepala Sub Bagian Akademik Kemahasiswaan dan Alumni.

Foto Oleh Syntia

Pembukaan seminar dilakukan oleh Dessy Humaira, M. Psi., selaku Staf Konselor UPT-LBK. Selanjutnya, mahasiswa diminta untuk mengisi kuesioner yang bertujuan untuk mengetahui kondisi kesejahteraan psikis mahasiswa selama 30 hari terakhir. Di samping itu, kuesioner ini juga diklaim dapat bermanfaat untuk para mahasiswa agar dapat mengidentifikasi permasalahan yang sebenarnya sedang mereka hadapi dan dapat menemukan solusi yang tepat atas permasalahan mereka.

“Tujuan dari pelatihan ini adalah sebagai antisipasi mahasiswa dalam menghadapi masalahnya. Seiring berjalannya tahun, mahasiswa yang melakukan konseling di UPT-LBK kian meningkat. Hal ini berarti permasalahan yang terjadi di kehidupan mahasiswa juga banyak. Kami sebagai konselor berupaya agar mahasiswa setidaknya bisa mengerti masalah yang sedang mereka hadapi. Mahasiswa juga dapat mencoba mencari solusi atas permasalahan mereka agar masalahnya tidak semakin menumpuk sehingga menjadi sebuah mental illness yang dapat berupa depresi,” ujar Deasyanti, M. Psi., Ph.D.,Kepala UPT-LBK Universitas Negeri Jakarta.

Di awal masa remaja (rentang usia 15-19 tahun), otak remaja berkembang lebih meningkat yang menyebabkan otak mampu menangkap segala sesuatu untuk dikonversasikan sebagai tindakan. Sementara, remaja juga lebih sensitif terkena gangguan mental akibat masalah yang mereka hadapi. Jadi, tidak sedikit remaja ketika menghadapi masalah, mereka justru melakukan tindakan tak terpuji seperti menggunakan obat-obatan terlarang, melakukan self harmless, dan yang terparah remaja dapat melakukan tindakan bunuh diri. Oleh karena itu, remaja butuh arahan untuk mendapatkan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Apalagi, menurut hasil penelitian dan pengamatan, di tahun 2020 diprediksi akan terjadi global beban depresi.

“Tidak sedikit mahasiswa yang melihat orang lain yang terkena depresi atau mental illness merasa takut, takut tertular, tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan orang yang sedang melewati masa berat tersebut. Berasumsi jelek kepada orang tersebut seperti mengolok-oloknya sebagai orang gila maupun membicarakan di belakangnya. Sebenarnya judgement, diskriminasi, dan stigma buruk yang dilontarkan dapat membuat orang-orang dengan gangguan mental merasa takut dan malu untuk mendapatkan perawatan, sehingga sakit yang mereka alami tidak kunjung pulih,” ujar Dessy Humaira, M. Psi.

UPT-LBK Universitas Negeri Jakarta menerima layanan untuk konseling permasalahan mahasiswa secara gratis. Program pelatihan pun juga dilaksanakan untuk mahasiswa, Dosen Pembimbing Akademik (PA), dan untuk tenaga kependidikan. Setiap konseling, tes psikologi, dan pelatihan memiliki alur pendaftaran masing-masing. Program yang dilaksanakan pun menjadi salah satu cara UPT-LBK untuk melakukan branding sekaligus sebagai evaluasi agar UPT-LBK dapat berjalan lebih baik.

“Antusiasme peserta dari Fakultas Ekonomi sangat kami apresiasi karena peserta hadir tepat waktu dan cukup banyak yang berkomitmen untuk datang,” ujar Ibu Dessy.

“Pelatihan ini cukup berjalan efektif dan kesiapan panitia dalam menjalankan acara cukup baik sehingga ilmu yang disampaikan juga dapat diterima dengan baik,” ujar salah satu peserta seminar. (SVA/DM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *