Waspada Delirium, Gejala Baru COVID-19 yang Menyerang Mental!

Sebelumnya, gejala umum yang dirasakan oleh pasien COVID-19 kebanyakan menyerang fisik seperti kelelahan, sesak napas, batuk, nyeri dada, nyeri otot, demam, kehilangan indra perasa dan penciuman, sakit kepala, dan lain-lain. Namun, saat ini sejumlah penelitian terbaru menyebutkan bahwa gejala baru COVID-19 tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga menyerang mental pengidapnya. Gejala baru COVID-19 yang menyerang mental pengidapnya disebut delirium.

Peneliti dari University of Catalonia (UOC), Javier Correa, mengatakan bahwa delirium merupakan gejala mental yang membuat penderitanya mengalami kebingungan dengan kesadaran yang berkurang seolah-olah sedang bermimpi. Para peniliti menemukan adanya indikasi bahwa COVID-19 mempengaruhi sistem saraf pusat dan mengakibatkan perubahan neurokognitif, seperti sakit kepala dan delirium. Biasanya gejala delirium ini ditemukan pada pasien COVID-19 yang sudah berusia lanjut.

Dikutip dari Kompas.com, Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), dr. Rubiana Nurhayati, Sp.S., mengatakan bahwa delirium adalah keadaan kesadaran seseorang menjadi terganggu. “Keadaan ini disebabkan karena hypoxia atau kekurangan oksigen di otak. Kondisi ini sering terjadi pada pasien COVID-19, dimana saturasi oksigen menurun,” kata dr. Rubi.

Ada beberapa gejala dari pasien COVID-19 yang mengalami delirium, diantaranya yaitu gangguan kesadaran dan perhatian seperti sulit fokus dan kesadaran berkabut hingga koma; suka melamun dan lambat bereaksi; berhalusinasi;daya ingat menurun; kesulitan berbicara; emosional tidak terkontrol seperti mudah tersinggung dan mood berubah-ubah; sering gelisah; serta gangguan siklus tidur yang berubah-ubah.

Delirium ini dapat terjadi pada pasien yang terinfeksi COVID-19yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti infeksi langsung ke jaringan otak, infeksi saluran kemih, ensefalopati akibat toksin karena proses perjalanan penyakit COVID-19, penyakit parah atau kronis, gagal napas yang menyebabkan otak mengalami kekurangan oksigen berat, infeksi berat yang mempengaruhi organ-organ vital, hiperkoagulasi (pengentalan darah yang hebat) sehingga menganggu aliran darah ke otak, serta efek dari obat-obatan tertentu dan keracunan obat atau alkohol.

Penanganan delirium pada pasien COVID-19 harus diambil tindakan perawatan yang tepat, karena secara umum pasien dengan delirium cenderung lebih menunjukkan sakit yang parah dibandingkan yang lainnya. Jika penyebap pasien mengalami delirium karena infeksi,pengobatannya juga ditujukan untuk menyembuhkan infeksinya. Namun, jika penyebabnya karena pengentalan darah yang berlebihan,perlu diberikan terapi agar kekentalan darahnya berkurang. Tindakan seperti terapi juga perlu dilakukan untuk membantu pasien yang mengalami derilium bergejala orientasi. (PTRY/MSA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *