Nadiem Makarim: Sekolah Wajib Berikan Opsi Pembelajaran Tatap Muka pada Tahun Ajaran Baru

 

foto dari : Liputan6.com

Setelah satu tahun lamanya, COVID-19 memaksa kita untuk melaksanakan pembelajaran secara daring. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, mengungkapkan bahwa pembukaan sekolah tatap muka akan dilaksanakan setelah vaksinasi tenaga pendidikan rampung dan menegaskan bahwa sekolah wajib memberikan opsi untuk pelaksanaan kegiatan belajar secara tatap muka.

Menurutnya, Indonesia telah tertinggal dalam kebijakan pembukaan sekolah dibandingkan dengan negara-negara terdampak lainnya. Ia juga menilai bahwa pembelajaran jarak jauh berpotensi membawa dampak negatif, seperti penurunan capaian belajar, peningkatan risiko anak putus sekolah, serta kekerasan pada anak. Oleh karena itu, Nadiem berharap bisa segera membuka sekolah secara perlahan.

Rencana dilakukannya sekolah tatap muka setelah vaksinasi guru dan tenaga kependidikan telah rampung dianggap aman, mengingat guru, dosen dan tenaga kependidikan yang berada dalam kelompok usia 31-51 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi untuk tertular COVID-19. Nadiem menargetkan vaksinasi guru, dosen, dan tenaga kependidikan ini akan selesai pada bulan Juni 2021, sehingga sekolah tatap muka dapat dilaksanakan pada bulan Juli 2021.

Pembelajaran tatap muka tidak sepenuhnya dilaksanakan 100%. Kegiatan sekolah secara tatap muka ini dilaksanakan dengan sistem rotasi yang tentunya akan mengutamakan protokol kesehatan. Dengan kata lain, sekolah akan memadukan antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh atau disebut juga dengan hybrid learning.

Dalam pelaksanaannya, orang tua siswa diberikan kebebasan dalam memutuskan bersedia atau tidak untuk menyertakan anaknya dalam kegiatan belajar tatap muka. Orang tua siswa yang merasa tidak nyaman dengan pembelajaran tatap muka berhak untuk menyertakan anaknya dalam pembelajaran jarak jauh. Akan tetapi, sekolah tetap wajib memberikan opsi untuk kegiatan belajar secara tatap muka.

Hal ini merujuk kepada ketentuan bahwa daerah dengan zona hijau dan zona kuning pada sebaran COVID-19 telah diperbolehkan untuk menggelar pembelajaran tatap muka. Namun hingga saat ini, hanya sekitar 56% sekolah di zona hijau dan 28% pada zona kuning yang membuka sekolah tatap muka.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) setuju untuk dilaksanakannya sekolah tatap muka dengan syarat positivity rate COVID-19 bisa di bawah angka 5%. Namun, sayangnya positivity rate COVID-19 di Indonesia masih terbilang tinggi yakni berada di atas 10%.

Terlepas dari bisa dilaksanakannya pembelajaran tatap muka atau tidak, kita harus tetap berhati-hati dengan penyebaran COVID-19. Tentu kita sama-sama berharap bahwa pandemi COVID-19 ini segera usai. Oleh karena itu, pihak penyelenggara harus betul-betul memperhatikan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Hal-hal demikian, diharapkan dapat terlaksana dengan baik dan juga perlunya pengawasan secara berkala. (TD/NAN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *