Korban Banjir di NTT Bertambah, 128 Meninggal Dunia

Cuaca ekstrem disertai angin kencang menyebabkan sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) terendam banjir dan tanah longsor. Bencana banjir bandang dan tanah longsor ini terjadi pada hari Minggu (4/4) dini hari atau sekitar pukul 01.00 WITA.

Banjir yang menerjang Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur ini merupakan banjir terbesar selama satu dekade terakhir. Musibah banjir tersebut pun memakan puluhan korban jiwa, bahkan angka dari korban masih terus bertambah. Hingga hari Selasa (6/4) pagi, korban yang meninggal dunia mencapai 128 orang dan 71 orang lainnya masih dalam pencarian. Sedangkan menurut data yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), setidaknya ada 15 orang luka-luka dan sebanyak 8.424 jiwa mengungsi.

Tak hanya memakan puluhan korban jiwa, bencana ini juga menimbulkan berbagai kerusakan dan juga kerugian secara materil. Berdasarkan data dari BNPB tercatat sebanyak 119 rumah rusak berat, 17 rumah hanyut, 118 rusak sedang, 34 rusak ringan, 60 rumah terendam, dan 1.962 rumah terdampak. Selain itu, terdapat 5 jembatan yang putus, 40 akses jalan tertutup pohon tumbang, 1 kapal tenggelam, 14 fasilitas umum rusak berat, 1 fasilitas umum rusak ringan, dan 84 lainnya terdampak.

Foto dari: News.okezone.com

Terdapat 10 kabupaten dan 1 kota yang menjadi lokasi terdampak bencana di NTT. Lokasi tersebut antara lain Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Malaka Tengah, Kabupaten Lembata, Kabupaten Ngada, Kabupaten Alor, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Ende.

Kementrian Sosial (Kemensos) menyampaikan akan terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Tim Tanggap Bencana di NTT dalam menyalurkan bantuan. Pada Senin malam, BNPB dan Kemensos telah menyalurkan sejumlah bantuan makanan, sarana prasarana, dan logistik ke Adonara, Lembata, Bima, dan Alor. Selain itu, Kemensos juga telah menyiapkan dapur umum yang dibuka di posko pengungsian

Foto dari: CNNIndonesia

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa bencana banjir bandang ini terjadi akibat badai siklon tropis Seroja yang merupakan dampak dari perubahan iklim global. Sebelumnya, BMKG juga telah mengeluarkan peringatan dini mengenai bahaya gelombang tinggi 4-6 meter akibat siklon tropis Seroja yang berlaku dari 5-6 April 2021 sejak 3 April 2021.

Meski demikian, Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, mengimbau warganya untuk tetap tenang dan menghindari kerumunan sehingga tidak terjadi eskalasi dari kasus positif COVID-19 di tengah upaya evakuasi. (TD/NIS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *