Mengapa Suhu Udara di Jakarta Terasa Dingin? Ini Penyebabnya

Akhir-akhir ini, suhu udara di Jakarta tidak seperti biasanya. Banyak masyarakat yang merasakan bahwa suhu udara di Jakarta terasa dingin terutama pada pagi hari. Belakangan ini, wilayah Jakarta dan sekitarnya mengalami hujan dan berawan tebal. Jika dilihat dari peta cuaca, seharusnya Jabodetabek masih dalam periode musim kemarau. Namun, kenyataannya berbeda sama seperti saat kemarau sebelumnya yang disebut kemarau basah. Kondisi ini dipengaruhi oleh cuaca di Jabodetabek yang memang cenderung hujan sepanjang siang dan malam, serta berawan tebal sepanjang hari sehingga menyebabkan suhu udara lebih rendah dari biasanya. Suhu udara mencapai 21-26 derajat celsius terutama pada sore dan malam, ataupun pagi hari. Salah satu pengamatan suhu udara wilayah Jakarta yang tercatat dari Stasiun Pengamatan Cuaca BMKG di Kemayoran selama 18-21 Juni mencapai 24,2 derajat sampai 26 derajat celsius.

Sumber gambar : kompas.com

Dilansir dari CNBC Indonesia, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) mengungkapkan alasan udara di sekitaran Jakarta terasa dingin dalam beberapa waktu belakangan. Kondisi ini diperkirakan karena adanya gangguan atmosfer yang mulai terjadi pada awal Juni sampai dengan akhir Juni nanti. Gangguan atmosfer inilah yang menyebabkan udara di Jakarta dan sekitarnya terasa lebih dingin dari biasanya. Seharusnya, saat ini Indonesia sudah mengalami periode musim kemarau. Akan tetapi, akhir-akhir ini hujan turun di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta dengan intensitas yang beragam mulai ringan hingga deras. Musim kemarau seharusnya sudah memasuki saat bulan Juni. Namun, hal sebaliknya terjadi di Jakarta karena dipicu oleh adanya aliran massa udara lembap dari Samudra Hindia ke wilayah Indonesia, khususnya bagian barat.

“Sudah hampir satu bulan ini seharusnya, bulan Juni hujan itu sudah jarang, tetapi dikarenakan ada gangguan dari adanya Indian Ocean Dipole mode-nya itu negatif maka itu akan membawa uap air dari Samudra Hindia masuk ke Indonesia. Kedua, yaitu gelombang atmosfer rossby yang memicu hujan di wilayah Indonesia,” kata Deputi Bidang Metereologi BMKG, Guswanto. Ia juga mengatakan bahwa awal musim kemarau di Jabodetabek diperkirakan akan terjadi awal Juli. Sementara puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus sampai dengan September 2021.

(KAN/UKH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *