Self Diagnosis pada Kesehatan Mental, Berbahayakah?

Sehat secara psikis dan fisik adalah impian semua orang. Apalagi di tengah kondisi pandemi ini, banyak masyarakat yang mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental dan fisik. Akan tetapi, saat ini masyarakat khususnya milenial, memiliki kecenderungan untuk mendiagnosis diri sendiri terutama ketika mereka merasa sedang mengalami masalah kejiwaan.

Self diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri adalah upaya seseorang untuk mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang didapatkan secara mandiri, misalnya dari teman atau keluarga, internet, bahkan pengalaman sakit di masa lalu.

Mudahnya akses untuk mencari informasi tentang kesehatan jiwa membuat sejumlah masyarakat menjadi cenderung mendiagnosis diri sendiri hanya dengan melihat gejala-gejala umum yang dipaparkan pada informasi tersebut. Padahal, untuk mendiagnosis penyakit jiwa yang diderita oleh seseorang, harus dilakukan oleh psikiater (dokter spesialis kedokteran jiwa).

Dilansir dari hallosehat.com, self diagnosis sebenarnya tidak selalu berdampak buruk. Pasalnya, terkadang ada beberapa kondisi kesehatan yang hanya bisa disadari oleh diri sendiri. Sementara itu, orang lain hanya mengetahui permukaannya tanpa mengetahui lebih dalam tentang apa saja yang terjadi pada diri kita.

Self diagnosis kesehatan mental menandakan kita sudah menyadari ada yang tidak biasa terjadi pada diri kita. Hal ini memang baik, tetapi kita tidak boleh hanya berhenti pada self diagnosis itu sendiri.

Justru, untuk mengetahui apakah kesehatan mental kita benar-benar terganggu atau tidak, self diagnosis hanya digunakan sebagai awal. Ke depannya, kita bisa segera menemui ahli medis profesional yang dapat membantu kita dengan berbekal self diagnosis yang kita lakukan. Misalnya, kita bisa pergi menemui psikolog atau psikiater.

Sumber Gambar: halodoc.com

Meski self diagnosis merupakan suatu awal yang baik untuk memahami lebih jauh mengenai kondisi kesehatan mental kita, tetapi hal ini juga bisa memberikan dampak yang buruk jika tidak digunakan sebagai mana mestinya. Dilansir dari hallosehat.com, berikut ini adalah dua risiko yang mungkin terjadi akibat asal melakukan self diagnosis.

  1. Salah mendiagnosis. Misalnya, Anda merasa suasana hati Anda sering kali berubah. Lalu, Anda melakukan self diagnosis dari kondisi tersebut dan mengira bahwa Anda mengalami gangguan kesehatan mental berupa depresi manik. Padahal, perubahan suasana hati yang terus-menerus terjadi bisa menjadi pertanda dari gangguan mental lain. Maka dari itu, akan lebih baik jika Anda pergi menemui ahli medis profesional untuk diagnosis lebih lanjut. Anda boleh saja menyebutkan hasil dari self diagnosis yang Anda lakukan untuk membantu psikolog atau psikiater lebih cepat menemukan masalah dari kesehatan mental yang sedang Anda alami.
  2. Salah melakukan perawatan. Jika Anda salah melakukan self diagnosis terhadap kesehatan mental, hal ini bisa berujung pada kesalahan pengobatan yang Anda lakukan. Pengobatan tidak selalu mengenai penggunaan obat-obatan, namun bisa juga mengenai metode perawatan yang Anda lakukan.

Oleh karena itu, self diagnosis bisa berbahaya bila kita langsung percaya terhadap diagnosis yang kita lakukan secara mandiri tanpa berkonsultasi kepada ahli medis profesional.

(RAH/NAD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *