3 Fakta Perubahan Nama RSUD oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta

Tepat pada 3 Agustus 2022, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, resmi melakukan perubahan nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menjadi Rumah Sehat Jakarta. Sebanyak 31 rumah sakit milik pemerintah telah dilakukan perubahan nama tersebut. Sementara itu, untuk nama rumah sakit swasta, pihaknya belum berencana untuk ikut menggantinya menjadi Rumah Sehat untuk Jakarta.

Dikutip dari berbagai sumber, Anies Baswedan memberikan alasan dibalik perubahan nama rumah sakit tersebut untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang peran rumah sakit sehingga harapannya, masyarakat tidak hanya mendatangi rumah sakit dalam keadaan sakit saja melainkan ketika sehat juga. Tentu hal tersebut direncanakan agar rumah sakit ikut serta mengambil peran membantu masyarakat dalam pencegahan penyakit dan mempromosikan hidup sehat.

“Selama ini RS kita berorientasi pada kuratif dan rehabilitatif sehingga datang karena sakit jadi datang untuk sembuh, untuk sembuh itu harus sakit dulu,” ucap Anies, dikutip dari Antara.

Berikut sederet fakta atas perubahan nama RSUD menjadi Rumah Sehat yang telah kami rangkum dari berbagai sumber.

Sumber foto: tempo.com
  1. Pencanangan Perubahan Nama Akan Dilakukan Serempak
    Pencanangan nama RSUD menjadi Rumah Sehat untuk Jakarta dilakukan di RSUD Cengkareng. Melalui Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI mencanangkan penamaan Rumah Sehat untuk Jakarta serentak dilakukan di enam wilayah kota dan kabupaten di Jakarta.

    “Kita mencanangkan, penjenamaan rumah sehat untuk Jakarta. Program ini sebenarnya sudah dirancang sejak lama, ide gagasan mulai dibahas 2019. 2020 awal, mulai kita siapkan langkah-langkahnya lalu muncul pandemi sehingga ini terhenti, kemudian diaktifkan lagi setelah kita bisa suasananya lebih memungkinkan,” ujar Anies dilansir dari portal berita liputan 6.

    Gubernur Jakarta juga menyampaikan bahwa COVID-19 mengajarkan hal baru untuk lebih menjaga kesehatan. Maka dari itu, rumah sakit diharapkan dapat berperan dalam aspek preventif.

  2. Logo Rumah Sakit untuk Jakarta Ikut Diseragamkan
    Penyeragaman logo rumah sakit karena selama ini RS di Jakarta belum mencerminkan kesatuan, lantaran logo yang digunakannya selalu berbeda disetiap instansi rumah sakit.

    “Lalu penjenamaan ini juga menyeragamkan seluruh simbol RS se-Jakarta karena selama ini simbolnya berbeda-beda, seakan-akan ini bukan satu kesatuan. Padahal semuanya adalah institusinya pemerintah yang memberi pelayanan kepada seluruh warga yang warga bisa datang ke mana pun juga,” kata Anies.

    Widyastuti selaku Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga menjelaskan bahwa Rumah Sakit untuk Jakarta memiliki desain logo yang terinspirasi dari kelopak bunga melati gambir. Bunga melati gambir menjadi salah satu bunga khas DKI Jakarta karena keindahannya dan khasiatnya sebagai obat.

  3. Menteri Kesehatan Akui Sudah diberi Tahu
    Ketika rencana Gubernur DKI Jakarta mengubah nama Rumah Sakit Umum Daerah menjadi Rumah Sehat untuk Jakarta, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan, bahwa Anies telah berbicara kepadanya sebelum Anies melakukan perubahan.

    “Sudah sempat berbicara dengan saya beliau. Sudah sempat bicara dengan kami,” kata Budi.
    Beliau juga menuturkan, Pemprov DKI Jakarta hanya mengubah logo dan nama branding saja. Sementara akta legal tetap rumah sakit, sehingga tidak ada aturan yang diubahnya.

    “Mesti dibedakan nama legalnya, apa nama brandingnya, misalkan ada rumah sakit pakai Hospital, jadi kalau dilihat logonya “apa” Hospital, tapi di aktanya tetap pakai rumah sakit. Jadi, update yang disampaikan kepada kami. Secara legal itu tetap rumah sakit, di brandingnya logonya memakai rumah sehat. Buat kita yang penting akta legalnya pakai apa,” ujar Budi.

Itulah deretan fakta terkait perubahan nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menjadi Rumah Sehat untuk Jakarta. Tentu atas kebijakan ini, Anies mendapat tanggapan dari berbagai pihak, termasuk salah satunya Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetio Edi Marsudi, yang menyatakan bahwa Pemprov DKI Jakarta seharusnya memunculkan program pembangunan dan pelayanan yang berdampak kepada masyarakat. Prasetio juga meminta supaya Anies tidak menerapkan kebijakan yang asal-asalan.

“Yang terasa langsung gitu kesuksesannya di tengah masyarakat. Bukan cuma ganti nama, kemarin nama jalan sekarang rumah sakit. Setop deh bikin kebijakan ngawur,” kata Prasetio.

Meski begitu, Menteri Kesehatan telah menyatakan, bahwa Anies sudah berbicara pada dirinya sebelum melakukan perubahan. (KN/SYA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *