Akhir Pandemi COVID-19 Sudah di Depan Mata, Benarkah Demikian?

Melansir dari Detik.com, Dicky Budiman, ahli panel World Health Organization (WHO), memprediksi bahwa sangat memungkinkan jika status COVID-19 akan berakhir pada akhir tahun ini atau selambat-lambatnya pada awal tahun 2023. Prediksi tersebut didasarkan pada penanganan COVID-19 saat ini yang cenderung sudah menurun.

Pada laman DetikHealth, Dicky Budiman mengatakan, “Bahwa kalau saya ekspektasi  estimasi optimis akhir tahun ini paling cepat atau awal tahun depan bisa dicabut status pandeminya, dengan alasan bahwa kita melihat tren efektivitas atau manfaat dari vaksin ini sangat jelas dalam menurunkan keparahan maupun fatalistas kematian”.

Tidak hanya itu, Dicky Budiman juga menyebutkan bahwa sangat memungkinkan terjadi penurunan angka penularan virus COVID-19 karena sudah banyaknya individu yang melakukan vaksinasi dosis dua maupun tiga. Hal tersebut diungkapkan oleh Dicky Budiman sebagai ahli epidemiologi dari Universitas Griffith, “Kemudian meskipun tidak 100 persen, tapi ada, lah, pengurangan jumlah virus yang ditularkan dari orang yang terinfeksi tapi dia sudah divaksinasi apalagi dua dosis, tiga dosis.”

Dengan demikian, besar kemungkinan imunitas publik sudah terbentuk sehingga dapat membuat tren kasus COVID-19 membaik secara nasional serta konsisten dalam menunjukkan penurunan angka global.

Meskipun demikian, kondisi COVID-19 saat ini bukan berarti bebas risiko. Dicky tetap meminta publik untuk waspada pada kelompok rawan, seperti lansia hingga komorbid salah satunya dengan cara menyegerakan kelompok tersebut untuk mendapatkan vaksin booster.

“Namun, harus diketahui Indonesia punya kerawanan. Terutama kelompok rawan lansia komorbid, banyak yang belum mendapatkan booster, hal ini berbahaya karena varian atau subvarian baru itu efektif dan bisa membalikkan kondisinya ketika dia menginfeksi orang yang rawan dan bisa fatal, nah, ini yang harus kita kejar,” ujar ahli epidemiologi dari Universitas Griffith Australia tersebut.

Oleh sebab itu, Dicky Budiman setuju dengan Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus,  yang menggunakan lomba maraton sebagai perumpamaan manusia dengan virus yang jika suatu individu tidak cepat-cepat, maka tidak dapat dipungkiri bahwa bisa saja virus tersebut melahirkan varian baru yang berdampak serius dalam menurunkan antibodi.

Sementara itu, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, memberikan respons terkait pernyataan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, pada acara CBS 60 Minutes bahwa keputusan untuk mengakhiri status pandemi COVID-19 ini ada di tangan WHO.

“Pandemi ini, kan, terjadi di seluruh negara di dunia, dan yang bisa memberikan statement menyatakan pandemi itu selesai adalah WHO,” ujar Presiden RI Joko Widodo pada tayangan YouTube Sekretariat Presiden.

Beliau juga menambahkan bahwa dalam pengambilan keputusan untuk mengakhiri pandemi tidak boleh tergesa-gesa, “Kalau untuk Indonesia, saya kira kita harus hati-hati, tetap harus waspada tidak usah harus tergesa-gesa, tidak usah harus segera menyatakan bahwa pandemi itu sudah selesai, saya kira hati-hati,” ujar Jokowi. Beliau kembali mengatakan bahwa sikap hati-hati itu tetap diperlukan karena kasus COVID-19 di sejumlah negara juga tengah merangkak naik.

Sependapat dengan Jokowi, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono, menyatakan belum mengetahui kapan diberlakukannya pandemi COVID-19 di Indonesia meskipun negara lainnya telah tak lagi mematuhi protokol kesehatan. Hal tersebut diungkapkannya di Gedung MPR/DPR RI pada Selasa, 20 September 2022, “Kita akan terus memantau perkembangannya kasus-kasus yang ada di kita, kan masih dua ribuan nih sekarang nih, masih terus kita pantau terus maka protokol-protokol kesehatan masih kita jalankan, terus kewaspadaan tetap masih kita lakukan.” (AIV/RIV)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *