September Hitam: Catatan Sejarah di Bulan Penuh Pelanggaran HAM

Sumber: kontras.org/september-hitam/

            Bagi sebagian mahasiswa, kalimat September Hitam bukanlah hal yang asing untuk didengar. Namun, bagi sebagian yang lain mungkin masih asing dengan kalimat tersebut. September Hitam, sebuah kalimat yang akan mengingatkan kita kembali kepada beberapa peristiwa pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia. Kalimat ini akan mengingatkan kita untuk terus menegakkan keadilan dan mengusut tuntas kasus-kasus yang pernah terjadi di Indonesia.

            Penuntasan kasus-kasus ini menjadi utang para penegak keadilan kepada masyarakat yang belum terselesaikan. Setidaknya, ada 5 kasus yang identik dengan kalimat September hitam, yaitu tragedi 1965-1966, tragedi Tanjung Priok, tragedi Semanggi II, pembunuhan munir, dan reformasi dikorupsi. Mau tahu detailnya? Simak selengkapnya di bawah ini.

  1. Tragedi 1965-1966

Sumber: redaksiindonesia.com

Pada tahun 1965/1966 telah terjadi peristiwa pelanggaran HAM berat terhadap mereka yang dituduh sebagai anggota maupun terlibat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Akibatnya, lebih dari dua juta orang mengalami penangkapan sewenang-wenang, penahanan tanpa proses hukum, penyiksaan, perkosaan, kekerasan seksual, kerja paksa, pembunuhan, penghilangan paksa, wajib lapor, dan lain sebagainya. Dari hasil penyelidikan Komnas HAM, sekitar 32.774 orang diketahui telah hilang dan beberapa tempat diketahui menjadi lokasi pembantaian para korban. Sementara, beberapa riset menyatakan bahwa korban lebih dari 2 juta orang.

  1. Tragedi Tanjung Priok

Tragedi ini berawal dari pemerintah yang tidak mau menerima kritik dan masukkan dari masyarakat. Pamflet yang memuat kritik masyarakat terhadap pemerintah saat itu diinstruksikan untuk di cabut. Namun, salah satu aparat menunjukkan perilaku tidak sopannya kepada masyarakat saat melaksanakan tugasnya mencabut pamflet. Hal ini menyinggung masyarakat terutama yang beragama Islam. Sekitar 1500 masyarakat turun kejalan menyampaikan aspirasinya. Sayangnya, sebagai akibat kejadian tersebut ratusan korban berjatuhan dan masih belum mendapatkan haknya hingga sekarang.

  1. Tragedi Semanggi II

Kasus Semanggi II terjadi pada tanggal 24-28 September 1999 saat maraknya aksi-aksi mahasiswa menentang  RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB) dan tuntutan mencabut dwi fungsi ABRI. Peristiwa ini juga terjadi di beberapa derah seperti Lampung, Medan, dan beberapa kota lainnya. Aksi-aksi tersebut mendapat represi oleh ABRI (TNI)  sehingga mengakibatkan jatuh korban antara lain, Yap Yun Hap (FT UI), Zainal Abidin, Teja Sukmana, M Nuh Ichsan, Salim Jumadoi, Fadly, Deny Julian, Yusuf Rizal (UNILA), Saidatul Fitria, dan Meyer Ardiansyah (IBA Palembang). Tim Relawan Kemanusiaan mencatat 11 orang meninggal dan luka-luka 217 orang dalam peristiwa tersebut.

  1. Pembunuhan Munir Said Thalib

Sumber: liputan6.com

Munir Said Thalib, meninggal dunia pada 7 September 2004.  Munir dibunuh di dalam pesawat saat terbang dari Jakarta ke Belanda dengan racun jenis arsenik. Munir merupakan aktivis yang sering menangani kasus-kasus pelanggaran berat. Konspirasi pembunuhan terhadap aktivis HAM Munir Said Thalib hingga saat ini masih belum mendapat titik terang. Negara hanya menghukum pelaku lapangan tanpa menyentuh aktor intelektual. Tim Pencari Fakta (TPF) bentukan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah selesai bekerja, namun hingga saat ini dokumen TPF tersebut tidak kunjung dibuka ke publik.

  1. Reformasi dikorupsi

Aksi nasional #ReformasiDikorupsi #RakyatBergerak #TuntaskanReformasi dimulai sejak 23 September 2019 di berbagai kota besar di Indonesia antara lain, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Palembang, Medan, Semarang, Bandung, Denpasar, Kendari, Tarakan, Samarinda, Banda Aceh, Palu, dan Jakarta, berakhir dengan aksi brutal dan represif dari aparat dengan menembakkan gas air mata, meriam air, bahkan peluru karet. Di Jakarta sendiri ditemukan selongsong-selongsong gas air mata kadaluarsa. Tak hanya itu, para demonstran diburu hingga ke dalam rumah makan, stasiun, dan rumah ibadah. (YI/SYA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *