Tarif Ojol Resmi Naik, Masyarakat Meringik

Kementerian Perhubungan resmi menaikkan tarif ojek online sebagai tindak lanjut dari kenaikan harga BBM subsidi. Tarif ojek online (ojol) per hari ini resmi mengalami kenaikan usai Kementerian Perhubungan (Kemenhub) beberapa hari lalu mengeluarkan Keputusan Menteri 677 Tahun 2022 yang isinya menyesuaikan tarif seiring kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Hendro Sugiatno, menyatakan pada saat konferensi pers penyesuaian biaya jasa ini dilakukan dalam rangka adanya penyesuaian terhadap beberapa komponen biaya jasa seperti bahan bakar minyak (BBM), upah minimum regional (UMR), dan komponen perhitungan jasa lainnya.

“Untuk biaya jasa ojek online 2022 kita putuskan adanya kenaikan, yaitu untuk zona I dari batas bawah Rp1.850 naik ke Rp2.000 atau kenaikan sebesar 8 persen. Untuk batas atas dari Rp2.300 naik menjadi Rp2.500, yaitu naik 8,7 persen. Dan biaya jasa minimal menjadi Rp8.000-Rp10.000,” jelasnya.

Sumber foto : Tribun.com

Perlu diketahui bahwa tarif ojol dibagi menjadi 3 zona, yaitu untuk zona kedua, tarif batas bawah naik dari Rp2.250 menjadi Rp2.550, dan batas atas naik dari Rp2.650 menjadi Rp2.800. Tarif minimal untuk zona dua adalah Rp10.200 sampai Rp11.200. Zona ini meliputi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek. Untuk zona ketiga, tarif batas bawah naik dari Rp2.100 menjadi Rp2.300 dan tarif batas atas naik dari Rp2.600 menjadi Rp2.750. Tarif minimal untuk zona ketiga adalah Rp9.200 sampai Rp11.000. Zona ini meliputi Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Selain itu, dengan kenaikan tarif sebesar Rp2.000 per perjalanan, sekitar 25 persen pengguna ojol kecewa dan beralih ke moda transportasi lain. Terlebih lagi, jika kenaikan tarif seperti yang direncanakan, yakni sekitar Rp4.000 per perjalanan, maka kemungkinan ada sekitar 72 persen pengguna tidak akan menggunakan ojol lagi.

Namun, kenaikan tarif ojol juga memiliki dampak positif maupun negatif serta terdapat beberapa ojol yang pro dan kontra terhadap kebijakan tersebut. Asosiasi Pengemudi Ojek Daring Garda Indonesia (GARDA) menolak penetapan tarif ojek online baru dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) seiring dengan naiknya harga BBM subsidi dan non subsidi. GARDA meminta kenaikan tarif tidak lebih dari 10%, karena sebesar apapun tarif yang diberlakukan, jika besaran biaya sewa aplikasi melebihi 10% maka tetap akan merugikan pendapatan pengemudi ojek online. (ANP/AIV)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *