Tugas Menumpuk Akibat Seringnya Menunda Pekerjaan Merupakan Hal Lumrah Bagi Otak Kita, Bagaimana Bisa?

Sumber: Kompasiana.com

Pernahkah kalian memiliki banyak tugas, tetapi bingung ingin mengerjakan yang mana terlebih dahulu kemudian berakhir menunda mengerjakan semua tugas tersebut lalu memilih rebahan dan main smartphone saja? Tenang, kalian tidak sendiri. Hal tersebut lumrah bagi hampir sebagian manusia di muka bumi ini. Jika ditelaah lebih dalam sikap menunda-nunda pekerjaan atau biasa disebut prokrastinasi ini memiliki kaitan erat dengan otak dan sistem kerjanya.

Otak kita memiliki berbagai macam fungsi dan bagian, setiap perilaku yang akan kita lakukan pasti melalui proses yang dicerna terlebih dahulu oleh otak. Begitu pula dengan prokrastinasi, bagian otak yang berperan, yaitu prefrontal cortex, dan sistem limbik. Prefrontal cortex memiliki fungsi sebagai yang bertanggung jawab dalam hal-hal yang berkaitan dengan perilaku manusia, seperti perhatian (attention), perencanaan (planning), memori kerja (working memory), pengekspresian emosi, dan perilaku sosial yang sesuai dengan norma di masyarakat.

Sumber: Kompasiana.com

Sementara sistem limbik berfungsi untuk pemrosesan dan pengaturan emosi, pembentukan dan penyimpanan memori atau ingatan, berperan dalam proses belajar, terlibat dalam respons tubuh terhadap stres (fight or flight response), dan membantu mengatur sistem saraf otonom. Dari fungsi tersebut dapat diketahui, bahwa Prefrontal Cortex berperan sebagai pusat logika, sementara sistem limbik mengambil peran pada emosi kita.

Ketika kita ingin melakukan sesuatu yang sudah terencana dan teratur pada prefrontal cortex kemudian mendadak tidak terlaksana karena menginginkan hal lain, seperti rebahan, scroll Twitter, maupun sosmed lainnya itu adalah efek dari peran yang dimiliki oleh sistem limbik. Lalu, ketika sudah mencapai deadline, peranan sistem limbik pun muncul kembali dalam bentuk rasa takut apakah tugas tersebut akan selesai atau tidak.

Permasalahannya, prefrontal cortex ini baru benar-benar berkembang ketika kita memasuki masa pubertas hingga dewasa, kurang lebih pada usia 25 tahun sampai akhirnya prefrontal cortex itu akan matang. Sementara sistem limbik sudah ada sejak kita kecil. Ketimpangan inilah yang terkadang membuat kita susah mengontrol keinginan untuk melakukan sesuatu yang memuaskan emosi kita tersebut. Solusi dari permasalahan ini, yaitu kesadaran bahwa sistem limbik tersebut perlu dikontrol dan dibatasi dengan memelihara bagian otak prefrontal cortex. Perlu diketahui bahwa prefrontal cortex dapat mengalami kerusakan pada saat, seperti adanya tekanan atau stres yang kemudian berimbas pada lemahnya kontrol emosi sehingga nantinya perilaku, pikiran, dan perkataan seseorang tidak dapat terkontrol sebagaimana mestinya. Parahnya lagi, kendala pada pre-frontal cortex tersebut bisa berakibat buruk pada kinerja di bagian-bagian otak lainnya, seperti kecanduan dan lain sebagainya. (ALZ/AIV)

 

Sumber

Youtube satu persen

https://www.google.com/amp/s/hellosehat.com/saraf/sistem-limbik/%3famp=1

https://www.gatra.com/news-516645-kesehatan-mengenal-pre-frontal-cortex-yang-mengatur-emosi-anak-.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *