Hadapi Resesi 2023, Jokowi Memberhentikan Ekspor Bauksit

Di tahun 2023, Indonesia akan menghadapi ancaman resesi yang menyebabkan persaingan dalam merebutkan investor semakin ketat. Maka dari itu, Presiden Republik Indonesia, Jokowi Widodo, memperingatkan jangan sampai kepercayaan investor yang telah diperoleh Indonesia hilang akibat salah langkah dan menyatakan akan terus menarik investasi agar industri pengolahan bisa dibangun di tanah air.

Dengan itu, Jokowi melakukan Hilirisasi yang di mana Hilirisasi merupakan suatu strategi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas yang dimiliki. Ia mengatakan, akan terus mendorong hilirisasi komoditas mentah guna meningkatkan nilai tambah. Setelah bijih nikel, ia menyebut akan serius menyetop ekspor bauksit hingga kopi dalam bentuk barang mentah.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Jokowi tegas menginginkan RI mulai menghentikan ekspor bauksit pada 2022. Ini artinya, lebih cepat dari aturan di dalam Undang-Undang No.3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (UU Minerba) di mana aturan larangan ekspor bahan mineral yang belum melakukan proses pemurnian, termasuk bauksit, berlaku tiga tahun setelah UU Minerba diundangkan, yakni 10 Juni 2023.

Menurutnya, ini perlu dilakukan agar Indonesia tidak lagi menjual bahan mentah, melainkan harus bernilai tambah terlebih dahulu setelah melalui proses pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Dengan demikian, negara dan rakyat akan mendapatkan keuntungan lebih besar dibandingkan hanya menjual bahan mentah.

Direktur Pembinaan Program Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sunindyo Suryo mengatakan, kini tengah dilakukan pembangunan 12 pabrik pengolahan (smelter) bauksit menjadi alumina. Bila itu tuntas dibangun dan mulai beroperasi, maka kapasitas input bijih bisa melonjak menjadi 35 juta ton per tahun.

Sumber foto: Dream.co.id

“Dengan dibangunnya 12 pabrik pemurnian alumina yang baru, maka diharapkan akan bisa menyerap seluruh bijih bauksit yang diproduksi. Dengan demikian, produksi alumina dalam negeri pun dapat ditingkatkan hingga keseluruhan mencapai 13,9 juta ton per tahun, dengan rincian, 1,3 juta ton berupa produk Chemical Grade Alumina (CGA) dan 12,6 juta ton berupa Smelter Grade Alumina (SGA),” ucap Sunindo.

(AR/SYA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *