Indonesia International Week ; Mengenal Lebih Dekat Budaya Berbagai Negara

Walaupun banyak negri kujalani. Yang masyhur permai dikata orang. Tetapi kampung dan rumahku. Di sanalah kurasa senang. Tanahku tak kulupakan. Engkau kubanggakan…
(Lirik lagu “Tanah Airku”)
Bangga sekali Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat beraneka ragam dan juga keindahan alam yang luar biasa. Kedua hal itu merupakan keunggulan yang dimiliki oleh bangsa nan permai ini. Indonesia—mulai dari tarian, nyanyian, makanan, kerajinan tangan, pakaian, rumah, dan upacara adat—merupakan aset yang sangat bernilai untuk patut dilestarikan. Wisata alam yang dimiliki Indonesia pun merupakan berkah yang harus disyukuri. Keragaman dan keindahan alam yang menjadi daya tarik utama turis mancanegara untuk datang ke Indonesia.  Lantas timbul pertanyaan,”Siapakah yang akan melestarikannya?” Para leluhurkah? Kakek-nenek kita? Komunitas pecinta budaya dan alam? Atau negara tetanggakah?. Jawabannya tentu saja : “Seluruh Bangsa Indonesia”. Itu artinya, seluruh bangsa Indonesia tak terkecuali presiden, menteri, gubernur, ulama, selebritis, hingga rakyat biasa hpun harus turut melestarikan budaya Indonesia.
Dalam sebuah artikel Solopos.com (28/6/2011), diceritakan bahwa terjadi perdebatan antara Gubernur Jawa Tengah dengan Walikota Solo. Gubernur bersikukuh agar bekas Pabrik Es Saripetojo Purwosari harus tetap dijadikan mal dengan alasan bahwa tanah tersebut milik pemerintah provinsi Jateng. Namun, Walikota Solo dan warga setempat menilai bangunan tersebut termasuk benda cagar budaya sehingga tidak dapat dibongkar begitu saja justru harus dilestarikan. Sangat disayangkan, salah satu pemimpin bangsa justru bertindak regresif terhadap pelestarian budaya bangsanya. Banyaknya kejadian klaim negara lain atas budaya bangsa Indonesia pun menandakan bahwa eksistensi budaya Indonesia di mata bangsanya sendiri sudah sampai di tahap kritis. Padahal, budaya dan keindahan alam yang dijaikan pariwisata merupakan peluang besar menambah devisa. Jepang dan Korea Selatan unggul dalam bidang teknologi, Finlandia unggul dalam bidang pendidikan, lalu bagaimana dengan Indonesia? Akankah kita membiarkan begitu saja peluang besar yang kita miliki ini?
Itulah yang melatarbelakangi sebuah kegiatan yang sangat menarik, karya inovasi anak bangsa yang dilaksanakan untuk mengenalkan budaya dan keindahan alam Indonesia di kancah internasional, “Indonesia International Week (IIW)” yang diselenggarakan oleh organisasi nonprofit ISAFIS (Indonesian Student Association For International Studies). IIW dilaksanakan mulai tanggal 2 hingga 13 Juli 2011 di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Tahun ini, IIW memiliki tema “Living In Multicultural Society” (Hidup Dalam Masyarakat Multikultural).
Rangkaian kegiatan IIW dimulai dengan opening yang dilaksanakan pada tanggal 2 Juli 2011, mulai pukul 17.00 WIB. Tim redaksi EC berkesempatan untuk meliput kegiatan opening IIW 2011 yang berlokasi di Universitas Bakrie, Jakarta tersebut. IIW 2011 merupakan pekan internasional ke-10 yang diselenggarakan oleh ISAFIS. Acara pertukaran budaya tahunan ini berada di bawah International Week Coordinator Organization (IWCO) yang bermarkas di Tallinn, Estonia.
Acara opening sore itu dimulai dengan pertunjukkan Tari Cokek (tari tradisional Jakarta) oleh Abang dan None Jakarta 2011. Suara musik tradisional khas Betawi terdengar memenuhi ruangan. Seluruh peserta, pembicara yang terdiri dari dosen Universitas Bakrie, alumni ISAFIS, dan juga segenap panitia terlihat menikmati pertunjukkan tersebut. Acara dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh Ketua ISAFIS, Tubagus Hari, dan presentasi dari masing-masing peserta untuk memperkenalkan negaranya mulai dari letak geografis, jumlah penduduk, budaya, tempat wisata, makanan, minuman,  hingga komoditi. 
Pada penyelenggaraan IIW tahun ini, peserta yang mengikuti IIW tidak hanya mahasiswa yang berasal dari luar negeri, tetapi juga dalam negeri. Mahasiswa luar negeri yang dapat menjadi peserta kegiatan ini adalah mereka yang direkomendasikan oleh IWCO berdasarkan hasil seleksi dari masing-masing universitas. Jumlah seluruh peserta yang ikut berpartisipasi dalam IIW tahun ini adalah enam belas orang yang berasal dari 9 negara, yaitu Indonesia, Belgia, Finlandia, China, Argentina, Hungaria, Togo, Turkey, dan Spanyol. Dengan adanya kegiatan ini, peserta internasional maupun lokal diharapkan dapat mengenal lebih dekat kebudayaan masing-masing terutama Indonesia. Ketua pelaksana IIW 2011, Muhammad Salman menerangkan bahwa melalui kegiatan ini, peserta akan melihat dan mempelajari kekayaan dan keragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia, yang tidak ditemukan di tempat lain. Kombinasi antara keramahtamahan kultur budaya masyarakat Indonesia dan keindahan alam akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para peserta.
Rangkaian kegiatan IIW 2011 terdiri dari seminar, diskusi, workshop, wisata kuliner, dan wisata alam. Beberapa kegiatan diantaranya seminar travel blogging, workshop ke tempat pembuatan batik dan kopi luwak, kunjungan ke pura serta pertunjukkan Tari Kecak, menikmati wisata bahari di Bali, melihat kemegahan Candi Bodobudur, dan masih banyak lagi. Di luar program resmi, panitia dan hostfam (sebutan untuk orangtua asuh para peserta) akan memfasilitasi free day atau hari bebas dimana pada hari tersebut mereka bebas memilih akan kegiatan yang akan dilakukan, seperti jalan-jalan atau berbelanja. Seorang mahasiswi asal China, Kathie, mengatakan “Sebelum ke acara opening ini, hostfam mengajak saya ke Monumen Nasioanl (MONAS) dan saya sangat senang.”  Ia pun mengaku bahwa motivasi utamanya  mengikuti IIW 2011 adalah Bali. “Di China, keindahan Bali sangat terkenal.”, ujar mahasiswi fakultas hukum Universitas Peking ini.
 
Diselenggarakannya IIW bertujuan untuk membantu pemerintah dalam mempopulerkan keragaman budaya masyarakat Indonesia dan juga keindahan alamnya. Selain itu, kegiatan ini sekaligus ingin mengubah paradigm masyarakat internasional yang menganggap bahwa Indonesia merupakan negara tidak aman dikarenakan isu terorisme yang merebak beberapa waktu lalu. M. Salman menambahkan bahwa tujuan utama pelaksanaan kegiatan ini adalah menciptakan mutual understanding di antara mahasiswa internasional bahwa mahasiswa bukan hanya sebagai pelajar melainkan juga sebagai diplomat yang mengenalkan budaya negaranya masing-masing ke kancah internasional. Berminat untuk mengikuti kegiatan ini? Tunggu Indonesia International Week 2012! (Atika dan Nova)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

casibom
marsbahis