KADAL 116: BERKAH RAMADHAN BAGI PENGUSAHA DADAKAN

Oleh ; Muhammad Solihin (Staff
Research and Development Department of Econochannel FE UNJ)
            Dinamika perekonomian di Bulan
Ramadhan terus menjadi perhatian masyarakat dan Pemerintah, biasanya akan ada
perubahan harga-harga komoditas bahan pokok saat Ramadhan dan menjelang Lebaran
tiba. Namun, tahun ini tidak nampak peningkatan harga yang melonjak signifikan
dan gonjang-ganjing ekonomi yang menjerat masyarakat menengah ke bawah seperti
di tahun-tahun sebelumnya. Tentu saja itu menjadi hal yang positif mengingat
dibeberapa sektor kebutuhan masyarakat lainnya, seperti tarif dasar listrik dan
bahan bakar minyak mengalami peningkatan harga akibat dari dicabutnya subsidi
dari Pemerintah.
            Sisi menarik yang selalu terjadi
saat Ramadhan tiba, yaitu adanya pengusaha dadakan. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Pengusaha adalah orang yang mengusahakan (perdagangan, industri,
dsb); orang yang berusaha di bidang perdagangan; saudagar; usahawan. Sedangkan
dadakan adalah sesuatu yang dilakukan secara tiba-tiba. Jadi pengusaha dadakan
merupakan orang yang melakukan usaha dibidang perdagangan, industri, dsb secara
tiba-tiba.
            Permintaan yang tinggi harus
diimbangi oleh penawaran yang tinggi pula, agar kebutuhan masyarakat bisa
terpenuhi, itulah teori dalam ilmu ekonomi. Pengusaha dadakan muncul akibat
dari adanya kebutuhan masyarakat akan makanan sebagai menu pembuka untuk melepaskan
dahaga selama berpuasa, dan kita akan menemukan beberapa jenis makanan yang
hanya bisa kita nikmati setahun sekali. Menariknya, para pengusaha dadakan ini
memanfaatkan halaman rumahnya untuk menjual aneka kebutuhan berbuka puasa. Meskipun
penyajiannya sederhana dan ala kadarnya saja, namun ini bisa menjadi potensi
yang sangat menguntungkan bagi ekonomi yang berbasis kerakyatan.
            Ekonomi Indonesia harus dibangun
dari ekonomi yang berbasis kerakyatan, meskipun Usaha Kecil dan Menengah
mengalami pertumbuhan yang baik akhir-akhir ini, namun jika kita memanfaatkan
para pengusaha dadakan ini untuk mengembangkan jiwa wirausaha mereka dan
memberikan wadah tersendiri untuk mereka, tentu saja ini akan menjadi penopang yang
kuat dalam ekonomi berbasis kerakyatan. Pada dasarnya, menjadi wirausaha hanya
membutuhkan keberanian dan kepekaan dalam memanfaatkan peluang yang ada.
Pengusaha dadakan ini telah memiliki kedua hal tersebut, dan disinilah peran
pemerintah untuk melakukan pembinaan terhadap mereka, karena mereka memiliki
potensi untuk menjadi seorang pengusaha.
            Keberkahan Ramadhan bisa dijadikan
momentum untuk meningkatkan perekonomian Indonesia secara makro, karena dengan
adanya pengusaha dadakan ini bisa mengurangi pengangguran sementara waktu. Peran
pemerintah dalam mengembangkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tidak harus
selalu bersifat pasif, yaitu memberikan bantuan modal bagi masyarakat yang
ingin berwirausaha dengan ide yang ditawarkannya. Namun, pemerintah juga harus
bersifat aktif, yaitu mencari masyarakat yang memiliki jiwa wirausaha untuk
bahu-membahu dengan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat yang
beraneka ragam. Harpannnya pemerintah dan masyarakat ini bisa memetakan
permintaan masyarakat yang tidak terpenuhi. Selain itu, ini bisa menciptakan lapangan
kerja yang berkesinambungan.
            Saya teringat dengan seorang pemuda
di desa tempat kelahiran saya yang memiliki semangat dalam berwirausaha. Ketika
Ramadhan tiba, dia menjual es buah dan aneka gorengan. Ketika tahun baru tiba,
dia menjual terompet dan pernak-perniknya. Ketika hari-hari biasa dia menjual
sayuran dengan cara berkeliling dan juga kue-kue buatan orang tuanya. Jiwa
seperti inilah yang memiliki potensi yang besar untuk menjadi pengusaha sukses,
karena dia mampu melihat peluang dan memanfaatkannya, agar hari-harinya tidak
dihabiskan untuk menjadi seorang pengangguran.
            Cerita di atas bisa menjadi
inspirasi bagi pemerintah dan stakeholder
yang pemangku kepentingan rakyat untuk memberdayakan pengangguran. Karena
menurut saya, untuk mengatasi pengangguran di Indonesia bukan dengan cara
memberikan mereka pekerjaan menjadi seorang karyawan atau pegawai pemerintahan,
namun dengan menjadikan mereka seorang pengusaha. Seorang pengusaha yang tidak
akan berhenti dengan satu jenis usaha, dia harus dibina untuk mengembangkan
potensinya.
            Keberkahan Ramadhan akan selalu ada untuk
pengusaha dadakan, pengusaha yang berasal dari rakyat. Mereka yang mampu
melihat peluang dan memanfaatkannya. Semoga keberkahan Ramadhan terus ada bagi
rakyat Indonesia di bulan-bulan setelahnya sampai bertemu lagi di Bulan
Ramadhan selanjutnya, dan ini terjadi secara terus menerus sehingga angka
pengangguran bisa ditekan dengan memanfaatkan usaha berbasis kerakyatan.-(MS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

casibom
marsbahis