56 TAHUN PERINGATAN PERISTIWA G30S/PKI

Seperti yang dikatakan oleh Soekarno dalam pidato terakhirnya yang disampaikan pada 17 Agustus 1966 yakni “Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!”, adapun salah satu sejarah kelam yang pernah dituliskan dan tidak akan terlupakan sebab menjadi mimpi buruk bagi Tanah Air kita tercinta, Indonesia, yakni Pemberontakan Gerakan 30 September 1965 yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia atau lebih dikenal sebagai Pemberontakan G30S/PKI.

Lubang Buaya menjadi saksi bisu di balik kejadian peristiwa kejam dan biadab tersebut. G30S/PKI pada mulanya terjadi dengan dilakukannya aksi penculikan dan pembunuhan terhadap tujuh jenderal serta beberapa orang lainnya yang kini kita kenal sebagai Pahlawan Revolusi. Gerakan yang dilandasi dengan tujuan untuk mengkudeta kepemimpinan Presiden Soekarno ini terjadi pada Kamis, 30 September 1965 pada malam hari. Malam itu menjadi malam yang panjang dan penuh kisah tragis didalamnya terhadap ketujuh perwira kita yakni Letjen Anumerta Ahmad Yani, Mayjen Anumerta Raden Soeprapto, Mayjen Anumerta M.T Haryono, Mayjen Anumerta Siswondo Parman, Brigjen Anumerta D.I Panjaitan, Brigjen Anumerta Sutoyo Siswodiharjo, dan Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean (Ajudan Jendral A.H. Nasution). Sebagian besar dari para perwira tersebut merupakan jenderal yang mempunyai pengaruh kuat pada masa pemerintahan Soekarno.

Sumber: infosemarangraya.com

Berdasarkan UU Nomor 20 tahun 2009, ketujuh jenderal yang tercatat di atas kemudian dinobatkan sebagai Pahlawan Revolusi sekaligus Pahlawan Nasional yang berjasa bagi bangsa Indonesia terutama dalam memurnikan kesaktian Pancasila.

Operasi pada malam itu dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung Sutopo yang juga menjabat sebagai Komandan Batalion I Resimen Cakrabirawa (pasukan pribadi Presiden Soekarno). Ketujuh jenderal yang telah diculik dan ditembak dibawa ke sebuah lokasi yang terletak di Pondok Gede yang kini kita kenal dengan sebutan Lubang Buaya. Setelah berhasil menculik dan membunuh petinggi AD, PKI menguasai gedung Radio Republik Indonesia dan mengumumkan sebuah Dekrit yang diberi nama Dekrit No.1 yang berisi pernyataan bahwa gerakan G30S adalah upaya penyelamatan negara dari Dewan Jenderal yang ingin mengambil alih negara. Singkat cerita, setelah mengambil laporan, Mayjen Soeharto segera mengambil alih pimpinan Angkatan Darat guna menindaklanjuti peristiwa tersebut dan merebut kembali gedung RRI dan Pusat Telekomunikasi.

Peristiwa tersebut berpuncak pada 1 Oktober 1965, di mana gerakan penumpasan G30S/PKI yang dipimpin oleh Panglima Kostrad dengan bantuan beberapa pasukan seperti Divisi Siliwangi, Kaveleri, dan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo. Kemudian pada 3 Oktober 1965, ketujuh jenderal yang telah dibunuh dengan bengis dan dimasukan ke dalam lubang sumur lalu ditembaki hingga mati ditemukan keesokan harinya. Lalu pada 5 Oktober 1965, seluruh korban dimakamkan di Taman Makam Pahlawan dan diberi gelar Pahlawan Revolusi. (MRA/AWS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

casibom
marsbahis