Euforia Idul Fitri di Kampung Halaman

Sragen…
Sragen adalah
sebuah kota kecil di daerah Jawa Tengah. Siapa yang mengira bahwa kota kecil
ini ternyata memiliki keanekaragaman budaya di dalamnya. Berbicara mengenai
euforia ramadhan dan lebaran tahun 2015, ternyata Sragen memiliki budaya unik
menyambut kedatangan ramadhan dan lebaran lho ecil.
Sehari sebelum
memasuki bulan ramadhan, seluruh warga harus membuat bancakan dan nantinya
masing-masing dari kepala keluarga harus pergi ke rumah RT mereka sambil membawa
bancakan tersebut, lalu berdoa bersama di rumah RT mereka.
Nah, lain halnya
ketika sehari sebelum mengakhiri bulan ramadhan atau biasa dikenal dengan malam
takbiran.Pada malam takbiran,  di Sragen ada
tradisi yang terdengar cukup unik dan meriah, pasalnya masing-masing RT di 1
desa pasti menyediakan paling sedikit 2 mobil bak, jadi total mobil bak dalam 1
desa ± 15 buah. Nantinya, mereka akan melakukan
arak-arakan menggunakan mobil bak ini. Biasanya yang naik ke mobil bak adalah
anak-anak kecil dan ibu-ibu, sedangkan para remaja biasanya akan melakukan
arak-arakan menggunakan motor secara bersama-sama. Sekitar pukul 20.00 wib,
arak-arakan pun dimulai, semua mobil bak dari setiap RT akan berkumpul nantinya
di satu tempat dan berjalan bersama-sama, sehingga arak-arakan terlihat sangat
panjang dan ramai karena diikuti oleh banyak sekali pengguna motor. Selain itu,
setiap mobil bak nantinya akan berhenti sejenak di setiap
masjid/mushola/langgar untuk menggema takbir bersama, setelah itu akan
melanjutkan perjalanan kembali. Diperjalanan pun anak-anak menggema takbir
sambil diiringi dengan pukulan bedug. Suasana terlihat sangat ramai dan
menakjubkan.
Pukul 22.00 wib
arak-arakan pun berakhir, dan semua mobil bak akan berhenti di
masjid/mushola/langgar di wilayah RT nya masing-masing. Namun, arak-arakan
berakhir bukan berarti warga pulang begitu saja. Setelah arak-arakan berakhir
warga dipersilakan untuk makan di masjid/mushola/langgar di wilayah RT nya
masing-masing, karena telah disediakan makanan dan minuman, hal ini biasa
disebut dengan “ingon”.
Sedangkan para
bapak biasanya akan berada di masid/mushola/langgar hingga dini hari ecil.
Kebayang dong bagaimana kebersamaan dan kekeluargaan sangat terjalin disini.
Ada yang menarik
lagi nih ecil, di hari pertama Idul Fitri setelah warga melakukan solat IED,
warga langsung kembali kerumahnya masing-masing dan memasak untuk esok hari.
Tidak ada tradisi bersalaman pada hari pertama Idul Fitri ini. Nah, saat hari
kedua inilah suasana Idul Fitri yang sebenarnya. Sekiitar pukul 07.00 wib,
semua warga harus berkumpul dirumah pak RT nya masing-masing, mereka akan
mengenakan pakaian terbaiknya pada hari itu. ± 300 warga yang berada pada RT ku ecil, kebayang kan betapa ramainya
suasana saat itu. Sambil menunggu acara dimulai, semua warga saling menyapa,
bersalaman, menikmati hidangan yang diberikan tuan rumah, dan
bersendagurau.  Acara pun dimulai dengan
sambutan-sambutan, pembacaan doa, dan diakhiri dengan halal bi halal yang
membentuk barisan sangat panjang. Sungguh rasa kekeluargaan sangat kental di
sini J. Setelah acara selesai semua orang kembali kerumah masing-masing dan
biasanya mereka akan pergi kerumah sanak saudara mereka dan berkumpul hingga
malam hari bersama keluarga besar.
Hari pertama,
kedua, ketiga, dan keempat setelah lebaran pun berlalu. Pada saat hari ke 5
setelah lebaran ternyata ada namanya lebaran kecil lho ecil. Apasih lebaran
kecil itu? Aku sebenarnya juga kurang paham, tapi menurut orang Sragen, setiap
lebaran kecil semua warga harus membuat kupat. Kupat ini tidak memakai sayur, melainkan
beras yang diberi bumbu, dan irisan kelapa kecil-kecil, kemudian direbus, lalu
kita tinggal memakannya. Konon katanya, bagi keluarga yang dulu pernah
keguguran atau anaknya meninggal dunia, wajib membuat bancakan di lebaran kecil
ini dan pastinya wajib membuat kupat, karena katanya anak yang telah meninggal
dunia tersebut pada lebaran kecil akan datang kerumah keluarga tersebut, dan
kita harus menyambutnya dengan bancakan itu. Entahlah, akupun kurang paham
dengan hal ini…
Begitulah sedikit
budaya unik di Sragen ecil, bagaimana dengan budaya di tempat kelahiran kalian?
Salam ecil J
Reporter : Lilis
Retno Rahayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

casibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibom
betciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetcio