Mampukah Kebijakan Fiskal Mendukung Stabiliasi Harga ?

Jurnal Dr. Haryo Kuncoro, Dosen
Fakultas Ekonomi, UNJ

            Jurnal yang dibuat oleh Dr. Haryo
Kuncoro, salah satu dosen di FE, UNJ bertujuan untuk menganalisis keterkaitan
antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter dalam konteks stabilisasi harga. Masalah
yang diamati dalam penelitian ini terfokus pada hubungannya dengan tingkat inflasi,
dalam kasus di Indonesia selama periode 2001-2013. Pada bagian pendahuluan,
terdapat beberapa contoh kasus negara-negara yang menerapkan target inflasi.
Berdasarkan data terbaru, terdapat 32 negara yang mengadopsi penargetan inflasi
sebagai kerangka kebijakan moneter. Sementara, kebijakan fiskal seperti
penerimaan, pengeluaran, defisit dan hutang, ternyata diadopsi sekitar 87
negara lainnya. Selanjutnya jurnal ini terdiri dari kajian teoritis, metode
penelitian, hasil penelitian dan bagian terakhir, kesimpulan.
Hal ini menjadi semakin menarik untuk
dikaji, setelah penemuan Rother (2004) bahwa kebijakan diskresi fiskal
mempengaruhi stabilisasi terkait tingkat inflasi. Kemudian, mengetahui
interaksi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi penting, sejak stabilitas
harga tidak hanya menjadi perhatian dalam kebijakan moneter, namun juga lahir
akibat adanya bauran antara kebijakan fiskal dan moneter. Dalam hasil
penelitian, terdapat tiga gambar dan 3 tabel hasil penghitungan peneliti yang
menjelaskan hubungan variabel-variabel tersebut.
Gambar
1

Pada gambar pertama yang menggambarkan
penerimaan dan pengeluaran pemerintah, ditemukan bahwa besaran defisit fiskal
relatif stabil dari waktu ke waktu. Namun, berdasarkan hasil penghitungan
mengenai defisit anggaran tersebut yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan
bahwa ternyata nilai defisit yang dimaksud lebih besar dibandingkan dengan yang
direncanakan. Sementara hasil penghitungan 
kebijakan aturan hutang berdasarkan metode Skewness, menunjukkan bahwa
nilai hutang yang sebenarnya hampir sama dengan yang diproyeksikan. Maka,
berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kebijakan aturan hutang
lebih kredibel dibandingkan dengan kebijakan defisit fiskal.
Gambar 2


            Gambar
2 membahas mengenai kredibilitas kebijakan defisit dan hutang yang dihitung
menggunakan pendekatan kemungkinan maksimum Johansen. Hasil menunjukkan bahwa
kredibilitas kebijakan defisit tidak signifikan dalam ketiga model. Besarannya tidak konsisten, yang
menunjukkan positif di PDB dan HP tapi negatif di AR.
Hasil tersebut
semakin memperkuat bahwa kebijakan defisit tidak kredibel. Terdapat jarak
deviasi yang sangat besar antara anggaran yang direncanakan dengan anggaran
yang sebenarnya, yang tidak memiliki pengaruh terhadap stabilisasi harga. Hasil
tersebut mendukung analisis sebelumnya yang menyatakan bahwa terdapat kejadian yang kebetulan antara tidak
kredibelnya kebijakan fiskal dengan kebijakan moneter.
Gambar 3

            Gambar
3 menunjukkan perbandingan tingkat inflasi yang direncanakan dengan tingkat
inflasi sebenarnya. Sebelum membahas mengenai hasil, perlu diketahui bahwa
pengumuman mengenai target inflasi pertama kali diumumkan oleh Bank Indonesia pada
tahun 2000. Target inflasi dengan hasil yang sebenarnya tak cukup memuaskan.
Hal tersebut dapat disebabkan oleh dua hal, yakni bank sentral terlalu rendah
dalam menetapkan target inflasi, atau bank sentral tidak sempurna dalam
memprediksi tingkat inflasi. Ketika
output yang sebenarnya berada di atas nilai output sebelumnya, tingkat inflasi
akan lebih tinggi. Dalam kasus tersebut pertumbuhan output merepresentasikan kondisi
ekonomi, dimana kondisi ekonomi itu memiliki peran penting dalam fluktuasi
tingkat harga. Tampaknya stabilisasi harga membutuhkan stabilisasi ekonomi.
Koefisien dari variabel dependen
menunjukkan bahwa perubahan tingkat inflasi cenderung kurang gigih untuk menghadapi kondisi ekonomi
dalam jangka pendek. Tingkat inflasi cenderung lebih tinggi pada kondisi krisis
kuangan pasca global. Sebaliknya, tingkat inflasi yang tinggi di periode yang
sama mengharuskan pemerintah untuk meningkatkan subsidi yang mengakibatkan
defisit yang lebih tinggi. Hal ini membuat kredibilitas kebijakan aturan hutang
lebih tinggi dibandingan kebijakan defisit.
            Berdasarkan
hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kredibilitas suatu
kebijakan tergantung pada komitmen atau kesesuaian kebijakan itu sendiri.
Kredibilitas kebijakan aturan hutang mengurangi nilai inflasi. Namun, di sisi
lain kebijakan aturan defisit, yang tidak memiliki kredibilitas, tidak memiliki
dampak apapun pada tingkat inflasi dan tidak mendukung target inflasi. Oleh
karena itu, penelitian ini menyarankan untuk adanya koordinasi yang kuat antara
kebijakan fiskal dan kebijakan moneter untuk menjaga kesinambungan kebijakan
fiskal dalam jangka panjang yang sesuai dengan kebijakan stabilisasi harga.

(SWP Subdepartment Penelitian dan
Pengembangan Econochanel.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

casibom
marsbahis