Pengaruh Tingkat Pedidikan dan Infrastruktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ( 2008 – 2012 )

Karya :           
–       Puput
Evira Iskarno ( Alumni FE UNJ )
–       Dr.
Harya Kuncara W., M.Si ( Dosen FE UNJ )
–       Dicky
Irianto, M.S.E ( Dosen FE UNJ )
Ekonomi
Indonesia sedang mengalami pembenahan. Perputaran kabinet kerja dan perombakan
APBN yang dilakukan Bapak Jokowi, menjadi langkah nyata untuk mencapai
Indonesia lebih maju. Sejalan dengan kondisi ini, guna menambah wawasan
pembaca. Saya akan mengangkat kajian jurnal yang mengusung topik “ Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia “.
 Apa yang
peneliti ingin buktikan, dalam penelitian ini ?
            Seperti yang kita bahas sebelumnya,
jurnal kali ini menitik beratkan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi kita meningkat, namun melambat bila dibanding tahun
sebelumnya. Hal ini menjadi sorotan utama bagi negara.
Melambatnya
pertumbuhan ekonomi, mengindikasi pula rendahnya kesejahteraan rakyat
Indonesia. Ketimpangan ekonomi yang terjadi di Indonesia adalah bukti nyatanya.
Bahkan, laju pertumbuhan ekonomi dibeberapa daerah seperti Aceh, Nusa Tenggara
Barat, dan Papua adalah negatif. Beberapa daerah tersebut memiliki kinerja
produksi, infrastruktur teknologi, tingkat kompetisi, yang tergolong rendah
dibanding daerah lainnya.
Rendahnya
kinerja produksi dipicu oleh latar belakang pendidikan yang minim. Sedangkan
buruknya infrastruktur daerah dipicu oleh minimnya investasi wilayah tersebut.
Keterkaitan antara tingkat pendidikan dan infrastruktur, terhadap pertumbuhan
ekonomi inilah yang akan dibuktikan dalam penelitian ini.
 Mengapa harus Pendidikan dan Infrastruktur ?
Kondisi
pendidikan ialah cerminan dari kualitas SDM. Pekerja Indonesia, 47,9 persen
didominasi oleh penduduk tamatan SD. Dengan
minimnya kualitas yang ada, kita dituntut untuk memiliki keterampilan tinggi
dalam bekerja. Salah satu langkah untuk membenahi kondisi ini adalah melalui
pendidikan.
            Di Indonesia sendiri investasi nasional sedang
mengalami pelambatan, akibat dari tingkat suku bunga yang tinggi dan pelemahan
nilai rupiah. Oleh sebab itu, ketimpangan pembangunan infrastruktur dibeberapa
wilayah menjadi terhambat. Infrastruktur seperti listrik dan jalan raya adalah
komoditi utama dalam menjalankan perekonomian, dan bila kondisi ini terus
berlanjut, ekonomi wilayah tersebut akan terus tertinggal.
            Dengan
membaiknya pendidikan dan infrastruktur, akan berdampak pada kualitas tenaga
kerja dan produktifitas ekonomi daerah. Sehingga, akan meningkatan pertumbuhan
ekonomi yang signifikan disetiap wilayahnya.
Bagaimana
sistematika penelitian ini berjalan ?
            Objek penelitian ini adalah jumlah
pekerja menurut tingkat pendidikan tertinggi yang dicapai pada tingkat SMTA (
Sekolah Menenegah Tingkat Atas ) sebagai objek data tingkat variabel
pendidikan, panjang jalan per daerah provinsi sebagai objek data variabel
infrastruktur, dan Pendapatan Domestik Regional Bruto ( PDRB ) sebagai objek
data pertumbuhan ekonomi variabel yang diperoleh dari Biro Pusat Statistik.
Ruang
lingkup penelitian ini meliputi data dari 32 provinsi di Indonesia pada
2008-2012, dengan menggabungkan data dari Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi
Riau dalam data. Rentang waktu 5 tahun ditujukan agar, hasil penelitian ini
dapat merepresentasikan kondisi ekonomi Indonesia yang berfluktuatif.
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode expost facto dengan
pendekatan analisis regresi.
Expost
facto merupakan penelitian penelusuran kembali terhadap suatu peristiwa  atau 
suatu  kejadian  dan kemudian merunut ke belakang untuk
mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat menimbulkan kejadian tersebut.
Sehingga, dengan expost facto dan pendekatan regresi, akan dilihat
ketergantungan variabel tidak bebas yang dipengaruhi oleh variabel bebas yang
mempengaruhi, masing-masing disimbolkan dengan Y (pertumbuhan ekonomi) sebagai
variabel terikat, dan X1 dan X2 (tingkat pendidikan dan infrastruktur) sebagai
variabel bebas.
Bagaimana
kesimpulan penelitian ini ?
Apabila
jumlah pekerja yang tamat SMTA naik 1 persen, dan proporsi panjang jalan di
setiap luas wilayah (PJJ) tetap, maka PDRB akan bertambah sebesar 57,5 persen
dari periode sebelumnya. Sedangkan bila, proporsi panjang jalan di setiap luas
wilayah naik 1 persen dari  periode  lalu 
dan  (SMTA)  bernilai tetap, maka PDRB akan naik sebesar
8,8 persen. Hal  ini  sesuai 
dengan  teori-teori penghubung
yang digunakan oleh peneliti, bahwa tingkat pendidikan dan infrastruktur
berbanding positif dengan pertumbuhan ekonomi.
Apakah peneliti
berhasil mencapai tujuan ?
            Peneliti
dapat membuktikan asumsi bahwa tingkat pendidikan dan infrastruktur berpengaruh
pada pertumbuhan ekonomi. 48,7 persen 
jumlah  PDRB  di 
suatu  wilayah provinsi yang
diperoleh, signifikan secara bersama-sama dipengaruhi oleh jumlah pekerja yang
tamat SMTA dan proporsi panjang jalan di setiap luas wilayahnya. Sedangkan  51,3 persen 
sisanya,  variasi perubahan  PDRB 
di  suatu  wilayah provinsi ditentukan atau dipengaruhi
oleh faktor-faktor lain di luar model penelitian ini.
Subdepatment Penlitian dan Pengembangan.  Sekar
Destilawati
Layout. Etik Nurbaiti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *