KADAL 114: Pergerakan Ekonomi Selama Bulan Ramadhan

Samuel Henrico (Staff SubDepartemen
Litbang EC Proaktif)
Datangnya
bulan suci ramadhan selalu disambut dengan gegap gempita oleh umat muslim di
seluruh dunia. Hal tersebut wajar, karena ramadhan merupakan momen istimewa
bagi seluruh umat muslim. Di sisi lain, gegap gempita menyambut ramadhan selalu
disertai dengan kewaspadaan yang meningkat dari para pemangku kebijakan
ekonomi. Setiap bulan Ramadhan, sudah bisa dipastikan harga-harga kebutuhan pokok
akan melonjak naik. Fenomena kenaikan harga secara umum tidak hanya terjadi
pada bulan ramadhan, tetapi kenaikan harga kebutuhan pokok akan melonjak pada
saat menjelang Idul Fitri dan Idul Adha.
Studi
AC Nielsen di Bulan Ramadhan menunjukkan penjualan barang konsumen di Indonesia
naik 9,2 persen. Penjualan biskuit misalnya meningkat 11 kali lipat. Untuk
penjualan ikan dan daging naik dua kali lipat, Penjualan sosis dan bakso
meningkat 34 persen. Data-data itu data yang didapatkan hanya dari pasar modern
saja. Di pasar tradisional juga terjadi peningkatan permintaan yang tinggi.
Logika
pasar, ketika permintaan akan suatu barang naik, harga juga ikut terdorong
naik. Nyatanya, terdapat orang-orang yang memainkan peran dalam memainkan harga
pangan di Indonesia, mereka dikenal sebagai mafia pangan. Saat ini, 80 persen
perdagangan beras dan daging dikuasai oleh mafia. Pada bisnis daging sapi
misalnya, mereka membentuk sebuah kartel yang mampu mengatur harga sebebas
mereka. Terbukti pada 6 Juni 2016 lalu, KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha)
memberi sanksi denda Rp 107 miliar kepada 32 perusahaan penggemukan sapi yang
melakukan kartel. Kehadiran spekulan inilah yang merugikan masyarkat. Mereka
menimbun barang agar menjadi langka, setelah itu menaikkan setinggi mungkin. Bulan
Ramadhan yang penuh berkah ini dijadikan ajang menumpuk kekayaan, tanpa peduli
kesengsaraan rakyat. Persoalan klasik yang terus terjadidari rezim ke rezim.
Saat
ini pun pemerintah tidak berdaya melawannya. Tiga menteri yang diberi tugas
untuk melawan para spekulan, yakni Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, dan
Menteri BUMN belum membuahkan hasil. Impor daging yang dilakukan Bulog (Badan
Urusan Logistik) tak mampu meredam harga daging yang melonjak naik. Begitu juga
dengan beras. Operasi pasar yang dilakukan di berbagai tempat hanya berdampak
di daerah yang terkena “Operasi”. Jika saja harga bisa dikendalikan, ekonomi
rakyat akan lebih hidup. Di tengah meningkatnya harga saja kita bisa melihat
ekonomi rakyat ikut bergerak. Di jalan-jalan non protokol masyarakat berjualan
aneka makanan mulai dari kelapa muda, kolak, sampai gorengan.
Pergerakan
ekonomi rakyat juga terlihat dari penjualan baju untuk kelas menengah bawah
yang meningkat. Beberapa pasar yang juga khusus menjual baju yang
merepresentasikan kalangan menengah bawah, seperti Pasar Tanah Abang, Thamrin
City, Pasar Cipulir di Jakarta dan beberapa pasar baju yang lain ramai pembeli.
Juga di pasar kaki lima yang masih aman dari razia. Intinya adalah selama bulan
Ramadhan, ekonomi masyarakat mengalami pergerakan. Perputaran uang yang terjadi
juga semakin kencang. Seandainya pemerintah mampu menekan harga pangan, pergerakan
ekonomi menengah kebawah akan semakin tinggi karena masyarakat informal bisa
lebih berpartisipasi. Harga tinggi bagi pegawai yang mendapatkan THR mungkin
tak begitu masalah, tapi bagi rakyat informal, kenaikan adalah malapetaka.  

Ada
dua cara untuk melawan mafia pangan. Pertama,
dilakukan lewat upaya hukum pidana maupun perdata, termasuk denda seperti
yang diberikan KPPU. Kedua, membanjiri
pasar dengan bahan pangan, termasuk lewat operasi pasar di banyak lokasi. Dari
sisi masyarakat, pengendalian diri dalam konsumsi masyarakat perlu untuk terus
ditingkatkan. Masyarakat perlu menanamkan pedoman bahwa waktu berbuka puasa
bukan arena balas dendam setelah
seharian tidak makan dan minum. Jika pemerintah dan masyarakat sama-sama
melakukan tugasnya, bukan tidak mungkin penurunan harga pangan dapat tercapai. Banyak
hal bisa jadi pelajaran dari ekonomi Ramadhan dan ekonomi lebaran. Pemerintah
sudah seharusnya mengatasi kenaikan harga jauh hari sebelumnya. –(SH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *