Panasnya Harga Minyak Goreng Mulai Mereda, tetapi Kembali Memakan Korban

Sumber: Tribunnews.com

Sejak akhir tahun lalu (2021), harga minyak goreng perlahan mulai melonjak tinggi. Harga minyak goreng yang mulai naik terjadi karena adanya beberapa kebijakan baru yang mendukungnya. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga turut membuat harga minyak goreng di Indonesia semakin tinggi, padahal Indonesia merupakan negara penghasil komoditas kelapa sawit terbesar di dunia. Dilansir dari katadata.co.id, pada tahun 2020, Indonesia memiliki kontribusi lebih dari 50% dari total nilai ekspor kelapa sawit global.

Setelah sempat mencapai harga tertinggi di bulan Maret s.d. April kemarin, kini harga minyak goreng mulai stabil di harga yang normal. Di beberapa lokasi di Indonesia, harga minyak goreng kemasan dengan ukuran dua liter sempat mencapai Rp50.000 bahkan lebih. Hal ini menjadi keresahan tersendiri bagi beberapa masyarakat karena sebagaimana yang kita ketahui, minyak goreng masuk ke dalam sembilan bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat Indonesia.

Pemerintah sempat membuat kebijakan baru demi menjaga kestabilan harga minyak goreng. Kebijakan yang paling terlihat signifikan pengaruhnya adalah kebijakan tentang dilarangnya ekspor CPO ke luar negeri. Crude palm oil atau yang biasa dikenal dengan istilah CPO adalah hasil pengolahan pertama dari tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. CPO ini adalah salah satu bahan utama dalam proses pembuatan minyak goreng. Selain diolah menjadi minyak goreng, CPO juga bisa diolah menjadi bahan bakar terbarukan seperti biodiesel.

Sumber: Tribunnews.com

Kebijakan pemerintah yang melarang ekspor CPO membuat beberapa perusahaan kesulitan untuk menjual hasil pengolahan pertama dari kelapa sawit tersebut. Kapasitas tangki penampungan yang dimiliki perusahaan juga terbatas sehingga beberapa perusahaan terpaksa menurunkan daya belinya untuk komoditas kelapa sawit karena arus masuk buah kelapa sawit tidak sebanding dengan arus keluar CPO yang telah diproses perusahaan tersebut.

Akibatnya, harga tandan buah segar kelapa sawit yang diterima petani kini sangatlah rendah. Hal ini membuat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menggelar aksi demo dalam rangka menentang pelarangan ekspor crude palm oil (CPO) yang berdampak pada anjloknya harga tandan buah segar (TBS) yang turut menekan perekonomian para petani sawit. Aksi ini digelar pada Selasa (17/5/2022) di dua titik, yakni di depan kantor Airlangga Hartarto atau Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan di depan Patung Kuda Monas, Jakarta Pusat.

Sumber: cnbcindonesia.com

            Dalam aksi tersebut, massa demonstrasi menegaskan bahwa larangan ekspor CPO harus segera dicabut. Apabila tidak dicabut, maka akan muncul korban berikutnya baik dari kalangan pengusaha pengolahan CPO maupun petani kelapa sawit. Pencabutan larangan ekspor ini juga merupakan peluang bangkitnya ekonomi Indonesia pasca pandemi COVID-19. Sebagaimana yang kita ketahui, harga minyak global masih cukup tinggi sehingga akan memulihkan perekonomian Indonesia.

            Pemerintah terlihat serius dalam menanggapi keresahan tersebut. Dilansir dari berbagai sumber, menteri perdagangan, Muhammad Lutfi, sedang mempertimbangkan untuk pembukaan kembali ekspor CPO. Menurut beliau, kita harus fokus terhadap harga minyak dalam negeri terlebih dahulu sebelum membuka larangan ekspor CPO.

(YI/REI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

casibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibom
marsbahismarsbahismarsbahismarsbahismarsbahismarsbahismarsbahismarsbahismarsbahismarsbahismarsbahismarsbahis