Pro Kontra Di Tengah Panasnya Kenaikan Harga Tiket Masuk Candi Borobudur

Sumber : travel.tempo.co

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan pemerintah akan membatasi kuota pengunjung Candi Borobudur. Selain itu, pemerintah akan menaikkan harga wisatawan yang akan berkunjung ke kawasan Stupa Candi Borobudur. Langkah ini akan membantu melindungi warisan budaya dunia.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, juga telah mengumumkan rencana untuk menetapkan tiket masuk ke kawasan Candi Borobudur sebesar Rp 750.000 untuk wisatawan lokal. Wisatawan yang hendak naik ke bangunan Candi Borobudur akan dikenakan tarif sebesar Rp 750.000 dan tiket masuk ke Candi Borobudur hanya Rp 50.000. Namun, wisatawan yang membayar tiket masuk Rp 50.000 hanya bisa masuk ke pelataran Borobudur. Mereka tidak bisa naik ke area Stupa.

Ganjar mengatakan, wisatawan masih belum diizinkan mencapai candi saat ini. Mereka hanya diperbolehkan di pelataran Candi Borobudur saja. Menurutnya, wacana tiket masuk Rp 750.000 bagi wisatawan lokal dan US$ 100 untuk wisatawan mancanegara untuk membatasi jumlah pengunjung yang mendaki candi.

Hal ini pun menimbulkan banyak pro dan kontra di kalangan masyarakat, seperti yang dicuitkan oleh beberapa warganet di Twitter berikut.

“Ini keputusan yg benar. Candi borobudur itu sejatinya tempat ibadah. Candi adalah cagar budaya yg hrs dilindungi. Kalo tiket murah dan banyak org naik candi, lama2 candi akan rusak. Biaya perawatannya mahal banget. Cara paling murah adalah membatasinya,” cuitan dari akun @Dennysiregar7.

“Bagus sih harganya dinaikin supaya memfilter org2 yg naik ke atas. Soalnya banyak oknum yg merusak,” kata @nightmare371.

Di sisi lain, tak sedikit masyarakat yang menilai harganya terlalu tinggi. Mereka mengatakan harus ada cara lain daripada menaikkan harga tiket.

“Kalo niat membatasi ya harga lama tp kuota terbatas perhari juga bisa, tinggal diarahkan aja ke platform tiket online untuk liat kuota pengunjung harian,” cuitan dari akun @BahtiarRA.

“Waduh pak agaknya kebijakan ini sangat tidak pro rakyat sekali ya. Pasalnya pembatasan juga bisa dilakukan menggunakan sistem kuota. Kalau pake skema tarif sih yang mengenal kebesaran situs sejarah itu hanya orang kaya,” kritik @ridwanibnuhasan.

Triawan Munaf, mantan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), juga menjelaskan bahwa fenomena pencemaran pariwisata telah menjadi masalah global. Banyak negara telah mengembangkan strategi baru untuk memerangi polusi pariwisata.

Bhutan telah menerapkan peraturan ketat dan kebijakan berkelanjutan tarif tinggi selama beberapa dekade. Ingatlah bahwa tempat-tempat suci tersebar di seluruh negeri. Dilansir dalam detik.com, Triawan Munaf, mengatakan mudah untuk melihat bahwa Borobudur memiliki kebijakan khusus, seperti biaya masuk yang lebih tinggi untuk wisatawan. (MF/SEL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *