Memasuki Musim Hujan, Waspadai Penyakit Leptospirosis!

     Leptospirosis adalah penyakit langka yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Leptospirosis dapat menyerang manusia melalui paparan air atau tanah yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri leptospira. Selain banyak terjadi di daerah yang terkena banjir, Leptospirosis juga rentan menyerang orang-orang yang biasa melakukan kontak dengan hewan tersebut.

     Bakteri Leptospira interrogans dapat hidup dalam ginjal hewan yang membawanya tanpa menimbulkan gejala apapun. Beberapa hewan yang dapat menjadi sarana penyebaran penyakit ini adalah anjing, babi, kuda, sapi, dan tikus. Ketika berada dalam ginjal hewan tersebut, bakteri ini dapat ikut terbawa bersama urine yang mereka keluarkan dan bercampur dengan air maupun tanah.

Sumber: suara.com

     Gejala penyakit Leptospirosis hampir sama dengan penyakit flu. Namun, jika tidak ditangani dengan tepat maka akan merusak organ dalam tubuh bahkan hingga mengancam nyawa si penderita. Berikut beberapa tanda dan gejala awal yang muncul pada diri penderita.

  1. Demam tinggi dan menggigil;
  2. Sakit kepala;
  3. Mual, muntah, dan tidak nafsu makan;
  4. Diare;
  5. Mata merah;
  6. Nyeri otot, terutama pada betis dan punggung bawah;
  7. Sakit perut; dan
  8. Bintik-bintik merah pada kulit yang tidak hilang saat ditekan.

     Keluhan-keluhan di atas biasanya hilang dalam waktu satu minggu. Namun, penderita kemungkinan dapat mengalami penyakit leptospirosis tahap kedua, yang disebut dengan penyakit Weil. Penyakit ini terjadi akibat peradangan yang disebabkan oleh infeksi.

Sumber: merdeka.com

     Leptospirosis banyak ditemui di negara tropis dan subtropis, seperti Indonesia. Hal ini karena iklim yang panas dan lembab dapat membuat bakteri Leptospira bertahan hidup lebih lama. Penularan pada manusia dapat terjadi melalui beberapa cara berikut:

  1. Kontak langsung antara kulit dengan urine hewan pembawa bakteri Leptospira;
  2. Kontak antara kulit dengan air dan tanah yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri Leptospira;
  3. Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri penyebab leptospirosis; dan
  4. Melalui luka terbuka, baik luka kecil seperti luka lecet, maupun luka besar seperti luka robek.

     Selain penularan melalui cara yang telah disebutkan di atas, beberapa faktor berikut juga dapat meningkatkan kemungkinan penyebaran penyakit ini

  1. Orang yang bekerja di luar ruangan atau kontak dengan binatang, seperti petani, dokter hewan, tukang daging, pekerja selokan, pekerja rumah potong hewan, dan lain-lain;
  2. Orang yang berkemah;
  3. Tentara;
  4. Pekerja tambang; dan
  5. Orang yang mandi di danau, sungai, atau kanal air tawar.

     Kita dapat mengupayakan dan melakukan pencegahan terjadinya penyakit ini dengan menjaga kebersihan, tidak menyentuh atau berenang di air banjir, dan rebuslah air yang sekiranya dirasa kurang higienis. Namun, jika penyakit Leptospirosis sudah menjangkit diri atau kerabat kita, lakukan beberapa hal berikut.

  1. Manajemen cairan dan demam;
  2. Menggunakan antibiotik; dan
  3. Terapi medis lainnya sesuai arahan dokter. (ARL/RIV)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

casibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibom
betciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetcio