5 Ciri Organisasi yang Toxic Beserta Cara Mengatasinya

Sumber foto : pexels.com

Tak dapat dipungkiri, kini  organisasi menjadi bagian dari perjalanan hidup manusia, baik berorganisasi di sekolah, kampus, kantor, serta di masyarakat. Dengan berorganisasi, kita dapat memperoleh berbagai manfaat yang nantinya dapat berguna bagi kehidupan kita kedepannya.

Meski begitu, organisasi juga tidak menutup kemungkinan kita mendapatkan hal buruk. Oleh karena itu, sangat penting untuk kita memahami ciri-ciri organisasi toxic yang mungkin akan berdampak secara langsung maupun tidak langsung kepada kita.

Sumber foto : pexels.com

1. Tidak ada kesempatan untuk berkembang

Umumnya ketika seseorang mengikuti organisasi, pastinya kita memiliki niatan untuk bisa mengembangkan atau menambah value yang ada pada diri kita. Namun, organisasi yang toxic umumnya tidak memperlihatkan dan memberi ruang kepada para anggotanya agar dapat berkembang. Organisasi seperti ini menggambarkan budaya organisasi yang hanya berorientasi pada terlaksananya program kerja dan tidak memiliki tujuan yang jelas.

2. Anggota organisasi cenderung takut untuk mengemukakan pendapat

Ketika anggota organisasi cenderung merasa takut untuk menyampaikan pemikiran atau ide baru, ini dapat menjadi salah satu ciri bahwa budaya organisasi tersebut tidak aman. Tentu hal ini dapat mematikan kreativitas dan soft skill para anggotanya.

3. Tidak solidaritas dan sinergitas

Solidaritas dan sinergitas menjadi modal yang penting untuk dimiliki dalam berjalannya suatu organisasi. Dengan adanya dua hal tersebut pada organisasi, tentu ini dapat membantu mereka dalam mencapai apa yang telah menjadi tujuan bersama. Apabila organisasi tidak mampu menciptakan lingkungan yang solid dan bersinergi akan mengakibarkan proses kegiatan organisasi menjadi tidak terkoordinir.

4. Pemimpin terlalu fokus pada tugas

Pemimpin yang terlalu fokus pada tugas menjadi budaya buruk perusahaan. Seharusnya pemimpin tidak berfokus pada tugas saja melainkan hasil dan tanggungjawabnya. Seorang pemimpin juga harus bisa mengembangkan anggota tim yang mandiri, memiliki skill yang kompeten, dan dapat memotivasi para anggotanya.

5. Pemimpin yang mengambil keputusan berdasarkan kepentingan pribadi

Pemimpin yang mengambil keputusan berdasarkan kepentingan pribadi menggambarkan bahwa budaya organisasi tersebut tidaklah sehat karena pemimpinnya saja masih mementingkan kepentingan pribadi diatas kepentingan bersama. Keputusan yang diambil secara sepihak tentu akan memberikan risiko kepada seluruh anggota organisasi.

Tentu saja menghadapi lingkungan organisasi yang toxic tidak mudah untuk diterima. Namun, ada beberapa tips untuk kita yang sedang terjebak di organisasi toxic untuk menghadapinya:

  1. Menghadirkan budaya organisasi yang positif

Dalam menghadapi lingkungan organisasi yang negatif, kita tetap berpeluang menciptakan lingkungan organisasi yang positif. Semisal, memberi pujian dan dukungan atas rekan kerja sebagai bentuk apresiasi atas apa yang sudah dia lakukan, membiasakan diri untuk saling peduli dengan sesama rekan kerja, memberi dukungan dan peluang rekan kerja untuk mengembangkan diri.

  1. Membuat Batasan secara professional

Kita dapat mencapai Work-life balance dengan membuat time management yang baik untuk kita menyelesaikan pekerjaan kantor tepat waktu sehingga kita tidak perlu membawa pekerjaan kantor ke rumah. Membuat Batasan tidak hanya membuat kita nyaman, tetapi juga demi kebaikan fisik maupun kesehatan mental.

  1. Mengakui adanya masalah dalam organisasi

Untuk mengatasi organisasi yang toxic, setiap orang harus peka terhadap masalah yang ada sehingga kita bisa terbuka dan mencari tahu bersama-sama apa solusi yang paling tepat untuk digunakan. Seorang pemimpin seharusnya juga berdiskusi dengan rekan kerja lainnya terkait masalah yang tengah dihadapi, supaya komunikasi negatif dapat hilang.

Itulah 5 Ciri-Ciri Lingkungan Organisasi toxic yang perlu kita sadari sedini mungkin, supaya kita bisa menghindari organisasi yang toxic tersebut. Adapun untuk teman-teman yang sedang terjebak di organisasi toxic, tentu saja tips di atas diharapkan dapat membantu memperbaiki lingkungan organisasi yang kurang baik. (KN/SEL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *