Never Coming Home

Oleh : Andini Nova

At the end of the world or the last thing I see.
You are never coming home. Could I? Should I? And all the things that you never ever told me. And all the smiles that are ever ever… (My Chemical Romance – The Ghost Of You)

*

Kata ibuku, aku adalah anak yang sangat dinantikan. Terutama oleh ayahku. Ketiga kakakku semuanya laki-laki. Maka, ketika aku -anak perempuan- lahir, bukan main bahagianya kedua orang tuaku. Apalagi ayah. Tiap hari ia menggendongku, mencubit gemas pipiku, dan kadang menyanyikan lagu nina bobo sebelum menidurkanku.

“Papa kamu pingin banget punya anak cewek.”

Andina Noor Syinat, itu adalah nama pemberian dari ayahku. Syinat, mengambil nama belakangnya, Ronald Syinat. Ah…beruntungnya aku mempunyai ayah dan ibu seperti mereka. setiap hari hidupku dipenuhi dengan cinta yang melimpah.

Tapi sepertinya aku lupa, bahwa perubahan itu pasti, waktu berjalan, dan musim berganti.

*

Andina usia tiga tahun

“Papa… Jangan pukul mama. Kasian mama sakit. Kasian mama nangis.”,

Andina menangis, bahkan tangisannya terdengar jauh lebih memilukan dibanding tangisan ibunya. Ibunya yang merunduk tak berdaya dan meringis kesakitan.

“Allan!!! Bawa adik kamu ke kamar!”, lelaki itu memerintah dengan nada membentak.

“Jangan pukul mama, Pa! Jangan pukul mama. Pukul Allan aja, jangan pukul mama, Pa…”, Allan menarik-narik kemeja ayahnya. Lalu menghampiri ibunya dan mencoba melindungi wanita tersebut, dengan membentangkan kedua tangannya ke samping. “Jangan pukul mama lagi, Pa…”

“Allan!!! Bawa masuk adik-adikmu! Masuk!!! Lelaki itu mendorong Allan hingga anak berusia 11 tahun itu jatuh tersungkur.

Sekarang giliran wanita yang berteriak, “Jangan, Mas! Jangan sentuh anakku!!!”, ia menarik Allan dan Dina ke dekapannya. Di pojok ruangan, Rezi dan Rezky mulai menangis.


“Masuk kamar ya, Sayang. Denger kata-kata Mama, ya…”,

Dengan tangan dan kaki gemetar akhirnya Allan menyerah. Ia mengajak ketiga adiknya untuk pergi dari ruang tamu. Mengajak mereka meninggalkan ibunya dengan terpaksa. Mengajak mereka berhenti menyaksikan adegan menyakitkan itu.

Adegan ibunya dipukuli oleh ayahnya.

Di kamar, Allan mencoba menenangkan ketiga adiknya yang menangis, gemetar, ketakutan. Rezi, Rezky juga Andina. Allan, dituntut untuk bisa menenangkan adik-adiknya yang terisak. Tidak peduli bahwa ia juga masih seorang anak kecil yang di saat memilukan seperti ini juga ingin ditenangkan.

Dan Allan menjadi semakin panik saat Andina mulai kesulitan bernapas Ya Allah, Allan harus gimana? Mama, Allan harus gimana? Allan takut.

Percayalah, Tuhan selalu bergerak dengan cara misterius.

Kekuatan itu datang. Entah dari arah mana. Yang jelas perasaan Allan menjadi lebih stabil. Ia mulai bisa berpikir jernih dan mencoba melakukan segala hal hingga akhirnya kondisi Andina berhasil membaik. Dengan sabar ia menenangkan ketiga adiknya, meyakinkan mereka bahwa semua baik-baik saja, dan akhirnya mereka bertiga pun tertidur. Saling memeluk, mengusir rasa takut. Allan masih terjaga. Kini giliran ia yang menangis.

Malam semakin larut. Bunyi hujan yang bergemericik di luar jendela menjadi alunan melodi yang berirama bersama simfoni isak tangis.

Andina usia lima tahun

“Mama, mama. Pap-pa mana? Kok gak pulang-pulang?”

“Papa lagi kerja, Sayang. Sebentar lagi pulang.”

Beberapa minggu kemudian,

“Mamaaaaa, Pap-pa manaaa? Keljanya kok lama banget? Andina mau ketemu pap-pa…”, ia merengek.

“Nanti, Sayang. Dina jangan bandel makanya ya. Harus mau makan yang banyak. Nanti Papa cepet pulang deh.”

“Kalo Andina gak bandel, Pap-pa pulang? Kalo Andina makan yang banyak, nanti Pap-pa pulang?”

“Iya, Sayang…”

Andina kecil mengangguk. Dan sejak saat itu ia selalu menurut tiap disuruh makan. Tidak membantah, tidak rewel, tidak cengeng.

Karena ia percaya bahwa ayahnya akan pulang jika ia menjadi anak baik.

…tetapi lelaki itu tetap tidak pulang.

Andina kelas satu SD

Andina tidak begitu mengerti apa yang dibicarakan ibunya malam itu. Dan saat ia bertanya pada Rezi, jawaban yang ia dapat hanya seperti ini,

“Papa sama mama udah pisah. Kita nggak punya papa. Papa punya mama baru.”

Dan kakak sulungnya-Allan, setelah mendengarkan semua penjelasan pahit dari ibunya, dengan segenap sisa tenaga dalam dirinya, mengucapkan sebuah tekad,

“Gak apa-apa, Ma! Gak apa-apa, Din! Gak apa-apa, Zi! Gak apa-apa, Ky! Ada Aa Allan yang jaga kalian. Aa akan jaga mama, jaga Dina, jaga Rezi, jaga Rezky. Kita gak apa-apa tanpa papa!”

Tapi beberapa detik setelah mengucapkan itu, Allan pun akhirnya roboh. Larut dalam tangisan, dan mungkin juga kebencian.

Mereka meraung. Menangisi kepergian lelaki bertopeng setan itu.

Andina kelas tiga SD

“Aku besok mau pergi berenang sama papaku, dong.”

“Aku dianterin ayah aku tiap hari naik motor.”

“Aku dibeliin sepeda sama papa aku.”

Andina kecil tidak iri. Ia mendengarkan tiap cerita teman-temannya tentang ayah mereka dengan seksama. Dengan mimik wajah polosnya yang bahagia, seakan ia juga mengalami hal yang sama.

…walaupun sebenarnya ia tidak.

“Kalo Andina dijemputnya sama Aa Allan, besok sama Aa Rezi, besoknya lagi sama Aa Rezky…”, lalu ia tersenyum.

…walaupun terlihat begitu getir.

Andina kelas satu SMP

“Ma, Andina mau ketemu papa, Ma. Ma, Andina mau ketemu papa dong.”

Ketika itu pagi. Gerimis jatuh melambat. Wajah Andina terlihat sumringah. Ia baru saja bersusah payah membujuk ibunya agar mengizinkan ia dan Rezky pergi menemui sang papa yang menurut info, saat itu tinggal di daerah Bandung. Setelah sang ibu mewanti-wanti Rezky agar menjaga Andina dengan kehati-hatian ekstra, mengingat kondisi Andina yang memang agak lemah. Akhirnya mereka pun berangkat. Tentu saja dengan membawa rindu yang bertumpuk.

Rezky yang saat itu kelas satu SMA, menggandeng adik perempuannya sepanjang perjalanan. Tanpa pernah melepaskannya sedetikpun.

Hingga rumah bercat coklat itu pun mulai terlihat. Mereka sampai. Setelah tadi di perjalanan mereka sempat tersasar ke beberapa tempat, sempat bingung saat tersesat di stasiun, dan sempat panik saat atshma Andina kambuh karena terlalu kelelahan berjalan-kesana kemari..

Dan mereka memang sudah sampai.

Ayahnya, sebentar lagi mereka akan bertemu dengan ayahnya. Setelah hampir sembilan tahun lelaki itu pergi meninggalkan mereka tanpa menyisakan bayangan sedikitpun.

“Oh ini yang namanya Andina sama Rezky?”, suara wanita. Ya, wanita itu berbicara dengan nada yang terdengar sinis.

“Saya istrinya papa kamu.”

Semua hening. Hanya suara deras rintik hujan dan gelegar petir yang beberapa kali memecahkan kesunyian.

Lelaki itu tidak banyak bersuara. Hanya mempersilahkan dua anaknya yang datang jauh dari Jakarta untuk masuk dan makan.


“Jangan terlalu lama disini, lusa kalian pulang.”

Lalu ia duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati yang ada di sudut ruangan, kemudian menyalakan rokok.

CLIK. Suara pemantik saat dinyalakan.

Tidak ada sambutan hangat, pelukan kerinduan, atau tangis haru. Yang ada hanya salam sinis dan sindiran pengusiran secara halus. Dan lagi-lagi, Andina tidak marah, tidak protes tidak mendengus. Ia tetap tersenyum. Walaupun dalam diam, hatinya teriris-iris pedih.

Kalo Andina makan banyak, kalo Andina gak bandel, kalo Andina gak cengeng, kalo Andina nurut sama Mama, papa pasti pulang kan, Ma?

Di luar, hujan masih menari-nari.

Andina Kelas tiga SMA

Tidak adalagi impian-impian tentang lelaki itu. Semuanya telah menguap habis.

“Seperti yang Aa Allan bilang dulu, kita baik-baik aja tanpa papa.”

Ia terlihat kuat saat itu. Meski saat wisuda kelulusan SMA hatinya tetap saja tercabik melihat teman-temannya diantar kedua orang tua mereka. Ayah dan Ibu.

Ah tapi itu sudah tidak terlalu menjadi masalah untuknya. Keberadaan ibu dan tiga kakaknya selama ini sudah lebih dari cukup membuatnya menjadi orang paling bahagia.

Ibunya terlihat cantik di hari wisuda itu. Tersenyum bangga setelah mendengar nama putrinya disebut oleh MC sebagai siswi berprestasi.

Papa, Andina lulus SMA. Apakah papa baik-baik saja disana? Apakah papa….ingat sama Andina?

Andina saat kuliah

“Kamu masih berpikir untuk mencari ayahmu?”
“Tidak.”
“Lantas?”
“Aku sedang menikmati hujan.”
“Ah, terkadang aku lupa, kamu seorang penikmat hujan.”
“Aku memang tidak lagi mencarinya. Tapi hujan ini mengingatkan aku tentang hujan di rumahnya malam itu.”

Ada satu kalimat. Hanya satu kalimat, yang hampir tiap hari berputar-putar di pikirannya,

“Andina kangen papa…”

Dan waktu berlalu tanpa pernah membawa lelaki itu kembali. Tapi Andina tetap meyakini teorama jiwa yang serupa, seperti dulu. Bahwa ia akan baik-baik saja. Tetap baik-baik saja. Dengan atau tanpa ayahnya disampingnya untuk memeluknya dan melindunginya. Ia percaya, bahwa ia dan ayahnya selalu berada di bawah langit yang sama. Dan itupun sudah cukup.

Kalo Andina makan banyak, kalo Andina gak bandel, kalo Andina gak cengeng, kalo Andina nurut sama Mama, papa pasti pulang kan, Ma?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

casibom
betcio