Revolution of Thoughts: Keluaran Zaman dengan Bantuan Media Sosia

Lahir pada tahun 1995 s.d. 2010, Generation Z atau GenZ dikenal sebagai generasi peralihan dari era milenial ke era revolusi industri 4.0 yang menghasilkan berbagai penemuan dan perkembangan teknologi canggih. Alih-alih sebagai pekerja, generasi ini lebih menyukai tantangan dan eksplorasi dunia luar. Media sosial sebagai salah satu keluaran modern tidak disangka bermetamorfosis menjadi mata dunia, mulai dari pemikiran, gaya hidup, dan tren menyebar cepat bagai virus.

Tak ayal dibantah bahwa GenZ memiliki pemikiran yang berbeda dengan generasi terdahulunya seperti Boomers, X, dan Y yang menjadi generasi orang tua mereka. Jika ditarik satu benang merah, perbedaan signifikan terlihat dari tren “Revolution of Thoughts” atau lebih ramah disebut open minded yang lebih dahulu muncul di negara-negara maju. Tidak ada yang mutlak benar atau salah dalam sebuah pemikiran, tetapi pemikiran ini membuka dan meluruskan cara pandang untuk hal-hal yang dahulu dianggap wajar, seperti objektifikasi perempuan, pernikahan dini, dan krisis mental akibat kekerasan.

Lalu, bagaimana korelasinya dengan media sosial? Tentu sangat banyak. Media sosial sebagai wadah penyebaran informasi tercepat dan terlengkap tidak hanya menyentuh pengetahuan, tetapi juga prinsip hidup. Jika dahulu tempat bercerita ternyaman ialah teman atau saudara dekat, sekarang sudah berubah dengan membagikannya di media sosial secara lebih luas sehingga dari cerita tersebut pembahasan menjadi lebih kompleks dan terbentuklah audiensi atas dasar rasa “senasib seperjuangan”. Keresahan muncul dengan pendukung yang lebih banyak untuk menuntut solusi atas masalahnya. Gebrakan “Open Minded” sengaja dihadirkan oleh mereka untuk hal-hal yang dianggap muak.

Foto dari : Kumparan

Karakter GenZ terbentuk dari proses dan masalah-masalah di atas. Ibarat dua bilah pisau, tren ini sering dijadikan ajang ikut-ikutan untuk dianggap manusia modern tanpa lebih dahulu mengetahui makna asli dan esensinya. Sebenarnya, kata open minded pertama kali dipakai dengan makna penghargaan atas jalan dan pilihan hidup tanpa merugikan hak-hak orang lain serta menerima perubahan secara positif yang disesuaikan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Namun, saking sulitnya memahami makna asli menyebabkan dampak negatif muncul dengan berpikir open minded sama dengan westernisasi. Padahal, dua kata ini memiliki makna yang berbeda karena westernisasi berarti mengikuti gaya hidup di negara-negara barat (Eropa dan Amerika) secara mentah-mentah alias tanpa disesuaikan dengan norma-norma yang ada, tetapi open minded hadir dengan orientasi penghargaan terhadap hak-hak hidup orang lain. Lebih jauh, generasi ini bisa saja tumbuh menjadi judgemental terhadap orang lain akibat merasa paling benar dan modern.

Cukup, tidak semua berdampak negatif karena dampak positifnya pun lebih banyak. Secara nyata, penyebaran informasi di media sosial sungguh dapat membentuk kemampuan berpikir kritis. Bayangkan saja, ribuan bahkan ratusan informasi bertumpang tindih setiap hari dan GenZ diminta memilah antara fakta dan buatan. Keadaan ini secara tidak langsung mengasah mereka untuk pintar menganalisis suatu informasi, mulai dari isu-isu sosial, seperti kebakaran hutan, negara konflik, kemiskinan, dan kriminalitas sampai isu politik baik di dalam maupun luar negeri. Dengan terasahnya kemampuan berpikir kritis, generasi muda dapat menanggapi masalah tersebut dengan logis, sistematis, dan kooperatif. Selain itu, dengan kemampuan ini generasi muda dapat saling bertukar pandangan apabila membahas hal-hal yang terkesan “berat”, tetapi dikemas dengan pembahasan yang renyah dan mudah dipahami.

Selain kemampuan berpikir kritis, karakter visioner juga menjadi salah satu karakter khas GenZ. Berpikir dua, tiga, bahkan sepuluh langkah ke depan telah menjadi kebiasaan, ini hebat mengingat sebagai generasi muda tujuan hidup, visi, dan misi menjadi acuan utama untuk menjalani kehidupan dan mencapai cita-cita. Segi orientasi kesuksesan pun telah berubah mulai dari profesi, peran di masyarakat, dan kemampuan finansial. Kebanyakan GenZ juga setuju bahwa kematangan diri sebelum berkeluarga perlu dilakukan agar tidak menimbulkan efek domino yang buruk kepada generasi-generasi selanjutnya. Runtutan berpikir GenZ membuktikan bahwa jiwa mandiri telah tertanam bahkan dari usia muda.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bagaikan dua mata pisau, media sosial memiliki dampak negatif dan positif dalam pembentukan karakter generasi muda secara pemikiran, pandangan, gaya hidup, dan isu-isu kehidupan dari seluruh penjuru dunia sesuai dengan cara pandang, ketahanan, dan ketelitian generasi muda.

 

PENULIS : Amelia Febrianti – Pendidikan Ekonomi 2020- Juara I EconoChannel Writing Competition 2021

EDITOR : Tengku Ananda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

casibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibomcasibom
betciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetciobetcio