Sejarah Formasi 17, 9, dan 45 Paskibraka

Sumber: kompas.com

Menjelang memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-78, biasanya diperingati dengan upacara pengibaran bendera merah putih di Istana Merdeka, yang dikibarkan oleh Paskibraka (Pasukan pengibar bendera pusaka). Anggota dari Paskibraka merupakan siswa/i terpilih dari setiap daerah yang diseleksi dari beberapa tingkatan. Mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan tingkat nasional. Biasanya, siswa/i yang terpilih merupakan pelajar SMA sederajat, yaitu kelas 10 atau 11. Saat melakukan pengibaran, Paskibraka menggunakan formasi 17, 8, dan 45. Yang dimana, formasi 17 merupakan pasukan penggiring, formasi 8 merupakan pasukan inti yang membawa bendera, dan formasi 45 merupakan pasukan pengawal. Formasi tersebut merupakan simbol dari tanggal proklamasi kemerdekaan RI, yaitu 17 Agustus 1945.

Sumber: historia.id

Dibalik formasi yang digunakan oleh Paskibraka, ada seorang pencetus Paskibraka dan formasi yang digunakan saat pengibaran bendera merah putih, yaitu Mayor Laut Husein Mutahar atau yang biasa dikenal H. Mutahar. Sejarahnya terjadi ketika suasana ibu kota Jakarta sedang tidak kondusif akibat tekanan Belanda, akhirnya ibu kota terpaksa dipindahkan ke Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946. Pada saat itu, Presiden Soekarno, memerintahkan H. Mutahar untuk mempersiapkan upacara kemerdekaan. Untuk merealisasikan permintaan sang presiden, H. Mutahar akhirnya mengumpulkan 10 pemuda-pemudi dari etnis dan latar belakang yang berbeda yang saat itu tinggal di Yogyakarta. Budihardjo Winarno merupakan salah satu Purna Paskibraka, wakil Yogyakarta. Pada saat itu, formasi Paskibraka disebut kelompok 10 dan formasi itu terus dipertahankan hingga tahun 1950. Pada tahun berikutnya, formasi berganti dengan kelompok 17. Ketika Ibukota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, H. Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera pusaka, pada setiap 17 Agustus, di Istana Merdeka yang dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode tersebut, para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa/i yang ada di Jakarta. Pada tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil oleh presiden saat itu, Soeharto, untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. (DZF/RIV)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *