Membangun Peradaban Ekonomi Islam

sumber gambar: www.flickr.com

87,2% populasi penduduk Islam di
Indonesia memasukkan
Indonesia kedalam tiga besar  negara
dengan masyarakat mayoritas beragama Islam. Namun perkembangan ekonomi Islam
masih sangat rendah terlihat dari data yang diperoleh dari OJK (2015), pangsa
pasar perbankan syariah masih mencapai 4,8% didukung oleh obligasi syariah atau
sukuk 3,2% dan keuangan syariah non
bank 3,1%. Sangat ironis, dengan peluang sebagai negara mayoritas beragama Islam
seharusnya ekonomi syariah berkembang pesat. Namun ekonomi syariah di Indonesia
masih terbilang rendah dibandingkan negara Malaysia. Padahal pasca krisis
ekonomi tahun 2008 yang disebabkan oleh dua negara besar dengan sistem Sosialis
bercampur Kapitalis yaitu Tiongkok dan negara dengan sistem Kapitalis murni
yaitu Amerika Serikat, para ekonom dunia mempertanyakan apakah sistem ekonomi
yang dipakai selama ini masih tetap harus dipertahankan melihat dampak dari
sistem ini masyarakat menjadi serakah.
Dalam berekonomi, Islam
mengajarkan kegiatan ekonomi yang beretika, menurut Dewan Komisioner Lembaga
Penjamin Simpanan Halim Alamsyah (2016) ekonomi syariah itu mengajarkan kita
untuk menjauhi kegiatan Riba atau memberikan tambahan dalam memberikan
pinjaman, spekulasi, dan judi. Hal tersebut 
didukung dengan pernyataan pakar ekonomi sekaligus praktisi dan
akademisi Syariah Syafii Antonio (2016) ketika menjalankan konferensi di negara
Vatikan bersama bapak Halim. Ekonomi islam sangat menyentuh segala aspek
seperti dari tingkah laku pebisnis yang dicontohkan dalam kegiatan menggali
batubara yang ramah lingkungan yaitu ekonom islam.
 
Syafii Antonio (2016) juga menjelaskan permasalahan ekonomi syariah
terjadi akibat adanya kesenjangan dalam hal praktik dan teori, mentalitas
pekerja dan kualitas kelembagaan. “Kebanyakan orang mengerti teori saja namun
lupa dalam praktik harusnya orang tersebut pakar syariah sekaligus pakar
keuangan, jadi sebagai ahli tafsir dan tahu tentang capital market”. Pada akhirnya banyak
masyarakat yang belajar ekonomi syariah hanya sebatas mengerti tentang hukum
hukumnya saja namun untuk menjadi wirausahawan masih kurang.
 Sejalan dengan pernyataan cendikiawan muslim
Prof. Komarudin Hidayat (2016) rendahnya perkembangan ekonomi syariah karena
ekonomi syariah masih asing terdengar di masyarakat. Masyarakat Islam di
Indonesia belum menyentuh kegiatan industri dimana kegiatan industri berdampak
baik dalam memiliki kemampuan pengetahuan teknologi dan mengedepankan jiwa
kewirausahaan. Para pendidik ekonomi Islam hanya mengajarkan secara normatif
tanpa mengetahui praktek di lapangan, tidak seperti di Universitas yang berada
di negara lain dimana para pendidik berperan sebagai pelaku ekonomi juga.   
Melihat banyaknya masalah yang
terjadi, penanaman ajaran ekonomi islam harus ditanam sejak dini dan diciptakannya
lingkungan yang mengedepankan nilai nilai ekonomi Islam. Seperti yang dilakukan
Rektor Universitas Islam Malang, Mujia Raharjo (2016) dalam membuat lingkungan
yang mengedepankan nilai nilai ekonomi Islam. Mujia membuat kebijakan agar gaji
para dosen dipotong sebesar 2,5%
untuk Zakat. Dimana kita mengetahui Zakat ialah salah satu kegiatan yang
dikedepankan ekonomi Islam untuk mendistribusikan kekayaan. Ataupun di Sekolah
Tinggi Ekonomi Islam TAZKIA yang didirikan oleh Syafii Antonio. Beliau menanamkan
nilai nilai Islam dimana melakukan kebijakan absen dengan sidik jari disaat
setelah melakukan kewajiban Sholat.
Selain itu lembaga pendidikan
harus memperkuat jaringan yang didukung oleh semua pihak dari internal lembaga maupun
ekternal lembaga. Hal ini agar ekonomi syariah semakin terdepan. Selain itu, internal
lembaga harus memiliki pendidik yang berkompeten di kedua bidang, baik syariah maupun
prakteknya. Lembaga juga bisa mengundang praktisi dalam proses pembelajaran
didampingi dosen yang faham akan fiqih agar para peserta didik mampu dalam prakteknya.
Sedangkan, eksternal lembaga harus memiliki sinergi dengan pihak pemerintah,
BUMN, lembaga Internasional ataupun pihak pihak yang mendukung akan
perkembangan ekonomi Islam di Indonesia. (mha)


Muhammad Hashfi Aufar
Pendidikan Tata Niaga B 2014 
Universitas Negeri Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *