Kejar Nilai atau Kuasai Ilmu

doc : google.com

Sebagai pelajar kewajibannya adalah menuntut ilmu. Membekali diri dengan ilmu yang dimiliki, akan bermanfaat di suatu hari nanti. Seperti yang tertera dalam hadist, bahwa “Tuntutlah ilmu pengetahuan itu mulai dari buaian, sampai ke liang lahat karena ilmu lebih utama daripada harta”. Sebab menurut Ali bin Abi Thalib “Bahwa ilmu warisan para nabi adapun harta adalah warisan Qorun, Firaun dan lainnya. Ilmu lebih utama dari harta karena ilmu itu menjaga kamu, kalau harta kamulah yang menjaganya”. Begitu pentingnya kita untuk menuntut ilmu untuk masa depan yang lebih baik dan apabila ilmu pengetahuan bermanfaat untuk orang lain pula, derajat kita akan dinaikkan oleh Allah SWT.

Hadirnya pendidikan memberikan peluang kita untuk menuntut ilmu, dengan ilmu sewaktu sekolah atau kuliah itulah, menjadikan proses belajar dan juga hasilnya sebagai modal untuk menekuni pundi-pundi rupiah guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam proses belajar inilah yang memunculkan hal-hal yang tidak diinginkan bagi para penuntut ilmu. Seperti yang kita ketahui dari memasuki dunia pendidikan yaitu sekolah dasar, kita sudah belajar untuk saling berlomba untuk mendapatkan nilai tinggi dan semakin tinggi tingkat pendidikannya maka semakin macam-macam nilai yang ingin diraih dengan berbagai cara.

Kerap sering terjadi kesalahpahaman dalam strategi yaitu dengan mencontek atau kecurangan lainnya,  karena pada dasarnya ketika di sekolah/kuliah sering terjadi yang dihargai adalah nilai dibanding kejujuran. Maka timbulah kedilematisan dalam menjalani proses pendidikan tersebut adalah apakah memilih mengejar nilai atau mengikhlaskan diri untuk menuntut ilmu? Di satu sisi nilai akademis memang penting, tidak bisa diabaikan begitu saja. Di sisi lain menguasa ilmu adalah tanggung jawab seorang pelajar, dan tentu akan jauh lebih baik apabila memiliki kedua-duanya yaitu mendapatkan nilai baik denganilmu yang kita miliki. Tapi apakah semua pelajar telah mengerjakan keduanya ?

Tentu menguasai ilmu menjadi sangat penting. Justru di sinilah kita merasakan yang namanya pelajar yang sebenarnya. Berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai tertinggi dengan bersungguh-sungguh belajar. Yang kita tanam dalam pikiran kita adalah apabila kita berusaha dengan maksimal, maka hasilnyapun akan maksimal. Tetapi apabila hasilnya di luar harapan, maka jangan kecewa karena proses yang kita lakukan kemungkinan besar akan bermanfaat di kemudian hari. Seperti contoh jika ingin mendapat nilai yang besar, bagus dan tinggi sehingga dari nilai tersebut dapat membuat orang tua kita bangga. Kita harus tetap belajar dan harus bisa memahami ilmu-ilmu yang dianjurkan dalam pemecahan masalah dalam soal-soal yang telah diberikan.  Untuk membanggakan orang tua tentunya dengan menunjukkan hasil ujian dengan nilai 9,5/10. Kalau tidak tahu bagaimana cara mendapatkan nilai tersebut, lantas bagaimana membuat orang tua kita bangga ?

Ada kalimat yang selalau terngiang-ngiang dalam benak saya yaitu “Isi semaksimal mungkin apa yang Anda tahu, apabila mencontek belum tentu mereka benar”. Dengan kata bijak itu, saya yakin bahwa usaha tidak akan menghianati hasil. Namun apabila nilai kita masih kecil, itu menandakan usaha kita belum sekeras usaha teman-teman yang memperoleh nilai lebih besar atau mungkin kita mempunyai bakat di luar bidang tersebut. Tetap yakin dan optimis dengan  bakat diri sendiri, karena belum tentu orang lain mempunyai bakat yang ada di dalam diri kita. Selalu tanamkan dalam diri bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing – masing, dengan demikian kita tetap selalu berusaha sebaik mungkin dalam bidang apapun.

Semua orang bisa mengejar nilai dengan berbagai macam cara. Nilai bahkan bisa dibeli dengan uang. Namun dengan ilmu kita bisa meghasilkan banyak uang, bisa menebar manfaat dimana pun kita berada, dan ilmu itu sendiri akan membawa keberkahan dalam hidup kita. Pada intinya masalah mengejar nilai atau menguasai ilmu itu adalah tergantung bagaimana sikap kita memandangnya. Sikap jugalah yang akan menentukan kita di masa depan. Kita boleh berambisi memiliki nilai yang tinggi, kita boleh berambisi menjadi orang yang menguasai satu bidang ilmu dengan predikat expert. Namun jangan terlalu tamak dengan kecurangan-kecurangan, pada dasarnya di dunia kerja nanti bahwa praktiklah yang membuktikan kualitas baik/buruknya diri kita. Maka dari itu, belajar dari sekarang untuk menuntut ilmu dengan baik dan halal agar dikemudian hari bermanfaat diberbagai hal.(DEON)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *